Masyarakat Lebih Perlu Lapangan Kerja Daripada BLSM

Jakarta, Sayangi.com – Rencana pemerintah untuk memberikan bantuan program bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) terus dikritisi. Program bantuan senilai Rp150.000 per rumah tangga tersebut dinilai tidak lebih baik daripada lapangan pekerjaan.

Hal tersebut dikemukakan Peneliti dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto, Senin (10/6/2013).

“Dengan memberikan lapangan pekerjaan dampaknya akan lebih panjang. Masyarakat juga akan merasa lebih terhormat, dibandingkan dengan menerima BLSM yang rencananya sebesar Rp150.000 per rumah tangga,” kata Eko.

Menurutnya, alasan pemerintah memberikan BLSM agar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak berdampak terlalu luas bagi masyarakat yang saat ini sudah keluar dari garis kemiskinan.

“Teori pemerintah itu agar daya beli 30 juta masyarakat miskin bisa terjaga termasuk juga dengan masyarakat yang telah keluar dari garis kemiskinan. Tapi menurut saya lebih baik sediakan lapangan kerja,” kata dia.

Dia menilai selain memberikan lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur serta optimalisasi energi juga baik untuk dilakukan dibandingkan pemberian BLSM.

“Kalau uang yang ada hanya untuk BLSM, tahun depan akan seperti ini lagi, 2014 akan ada APBN-P lagi,” ujar dia.

Peneliti Indef lainnya Enny Sri Hartati mengaku meragukan apabila BLSM dapat dijadikan sebuah resep jitu untuk menjawab daya beli masyarakat yang turun signifikan akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.

“Tidak ada mitigasi yang berdimensi jangka menengah untuk mengatasi kemerosotan daya beli. Yang dibicarakan hanya BLSM. Apa ini bisa menjadi obat di saat daya beli turun signifikan,” kata Enny. (MI)