AJI Indonesia Jadi Anggota Eksekutif IFJ

Bandarlampung, Sayangi.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif International Federation of Journalist dalam Kongres Ke-28 IFJ di Dublin, Irlandia, awal Juni 2013.

Ketua AJI Indonesia Eko Maryadi saat dihubungi dari Bandarlampung, Senin, membenarkan bahwa selain memilih pimpinan/presiden International Federation of Journalist (IFJ), dalam kongres yang berlangsung mulai 4–7 Juni 2013 itu juga bersepakat memilih 16 anggota Komite Eksekutif (Execom) IFJ.

Salah satu yang terpilih adalah dirinya sebagai Ketua AJI Indonesia.

Dalam pemilihan Execom IFJ tersebut, Eko Maryadi meraih 180 suara menyamai perolehan suara Bernard Lunzer dari Amerika Serikat.

Komite Eksekutif IFJ merupakan lembaga penasihat regional IFJ yang bermarkas di Brussels Belgia.

Eko Maryadi adalah anggota Komite Eksekutif IFJ pertama mewakili Asia Tenggara.

Selain Eko, terpilih Abdal Nasser Najjar (PJS, Palestina), Pervez Shaukat (PFUJ, Pakistan), Moaid Allami (IJS, Irak), Sabina Inderjit (IJU, India), Michael Yu (ATJ, Taiwan), dan Chong-Ryul Park (JAK, Korea).

Menurut Eko, keberhasilan masuknya tujuh negara Asia dalam Komite Eksekutif IFJ memunculkan harapan bagi iklim kebebasan pers dan penguatan serikat pekerja media di kawasan Asia.

Selain tujuh wakil Asia, tercatat anggota Komite Eksekutif dari benua lain, yaitu Zuliana Lainez Otero (ANP-FNTCS, Peru), Jose Leopoldo Insaurralde (FATPREN, Argentina), Mohammed Garba (NUJ, Nigeria), Fedile Moholi (LJU, Lesotho), Olivier Da Lage (SNJ, Prancis), Luiz Menendez (FAPE, Spanyol), Franco Siddi (FNSI, Italia), Christopher Warren (MEAA, Australia), dan Bernard Lunzer (TNG, USA).

AJI telah menjadi anggota IFJ sejak 1994, dan sekarang anggota AJI di seluruh Indonesia telah mencapai 2.100 orang jurnalis yang tersebar di 35 kota.

Eko menjelaskan bahwa Kongres Ke-28 Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) di Dublin Irlandia itu akhirnya sepakat menetapkan Jim Boumelha sebagai Presiden IFJ untuk ketiga kalinya.

Boumelha adalah jurnalis senior asal Inggris dan mantan Presiden Serikat Kerja Nasional Inggris-Irlandia.

Jim Boumelha pertama kali terpilih sebagai Presiden IFJ pada Kongres IFJ 2007 di Moskow, kemudian terpilih lagi pada Kongres IFJ 2010 di Cadiz, Spanyol.

Dalam proses pemilihan yang ketat, Jim Boumelha merebut 191 suara menyisihkan pesaingnya Philippe Leruth yang meraih 178 suara.

Leruth adalah jurnalis senior asal Belgia, pernah menjabat Wakil Presiden Federasi Jurnalis Eropa (FEJ).

Menurut Eko Maryadi, meskipun pemilihan Presiden IFJ kali ini sempat diwarnai protes dan aksi walkout delegasi Jerman (DJV) dan Kanada (CWA-SCA), dan diikuti mundurnya anggota Presidium asal Belgia, tetapi pada akhirnya semua pihak dapat menerima hasilnya dengan syarat adanya perbaikan sistem pemilihan mendatang.

Selama periode tiga tahun mendatang, Presiden IFJ Jim Boumelha akan didampingi Wakil Presiden Youness Mjahed (SNPM, Maroko), Celso Schroder (FENAJ, Brazil), dan Jasmina Popovich (TUCJ, Croatia), Bendahara IFJ Wolfgang Mayer (Ver.di, Germany), dan Sekretaris Umum IFJ, Beth Costa (Brasil).

Dalam rapat pertama Presiden IFJ dengan Komite Eksekutif, Jumat (7/6) malam di Dublin, Presiden IFJ Jim Boumelha mengajak Pengurus IFJ melakukan konsolidasi internal.

Jim berjanji akan menemui pengurus Union dari Jerman dan Kanada yang walkout dari Kongres.

Presiden IFJ juga akan mengatur perjalanan ke Asia menemui konstituen IFJ di wilayah tersebut, termasuk kemungkinan hadir dalam HUT Ke-19 AJI, Agustus 2013.

Selaku anggota Komite Eksekutif IFJ Asia Eko Maryadi mengajak organisasi jurnalis di Asia meningkatkan profesionalisme dan lebih kuat menyuarakan berbagai masalah jurnalis.

Dunia media dewasa ini, kata dia, berubah cepat dalam berbagai aspek, seperti menguatnya monopoli kepemilikan media yang tidak peduli pada kesejahteraan pekerja pers, serta pengabaian hak-hak koresponden, stringer, dan freelancer.

“Jurnalis di Asia juga harus waspada terhadap meningkatnya politik kontrol media oleh rezim otoriter, meluasnya ancaman kekerasan dan impunitas, serta watak pengusaha media yang anti-union atau antiserikat pekerja jurnalis,” ujar Eko.

IFJ merupakan Serikat Jurnalis Dunia beranggotakan 600.000 pekerja pers dari organisasi jurnalis di 123 negara yang berpusat di Brussels, Belgia, dan AJI merupakan satu-satunya organisasi jurnalis anggota IFJ dari Indonesia. (RH/ANT)