Kontroversi Penembakan Terduga Teroris di Poso

Palu, Sayangi.com – Bara kembali dilempar ke Poso. Tidak terima satu diantara warganya, Nurdin, tewas ditembak polisi, masyarakat memblokir jalan trans Sulawesi.

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani membeberkan kronologis penembakan terduga teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (10/6), yang berbeda dengan cerita versi polisi.

Siane melalui pernyataan yang diterima di Palu, Selasa (11/6), menyebutkan kejadian yang menewaskan Nudin alias Bondan itu bermula pada Senin (10/6), pukul 15.35 WITA. Nudin saat itu berboncengan dengan temannya mengendarai sepeda motor Revo dengan nomor polisi DN 4159 EI.

Nudin saat itu telah dibuntuti polisi di Jalan Pulau Seram. Setibanya di Jalan Pulau Irian, sekitar pukul 15.40 WITA, tepatnya di depan Lorong Jalan Pulau Seribu, sepeda motor yang dikendarai Nudin ditabrak dari belakang oleh mobil polisi yang membuntutinya.

Dalam kronologis yang jelas-jelas menghina akal sehat yang dibuat polisi menyebutkan, Nudin menabrak mobil polisi. Bagaimana mungkin sepeda motor menabrakkan ke mobil? Kecuali dia bawa bom dengan motif serangan bunuh diri. Padahal, tak ada sama sekali bom di motor Nudin.

Setelah sepeda motor terjatuh, dua terduga teroris itu sempat melarikan diri ke dalam Lorong Pulau Seribu. Melihat keduanya lari, polisi melepaskan tembakan sebanyak delapan kali, Nurdin tertembak dan lainnya berhasil kabur.

Dalan kronologis polisi, terduga teroris menembaki aparat sehingga polisi memberikan tembakan balasan. Kini sepeda motor Honda Revo yang dikendarai terduga teroris yang tertinggal di tempat kejadian perkara diamankan oleh anggota TNI di Poso.

Selanjutnya, pada pukul 20.00 WITA massa menuju Polres Poso guna meminta jasad Nudin namun tidak dipenuhi oleh polisi. Sebelumnya juga terdengar suara tiang listrik dipukul berkali-kali.

Karena bertentangan dengan fakta-fakta di lapangan, Komnas HAM menyesalkan pernyataan yang dibuat oleh polisi, dalam hal ini Mabes Polri.

Selain itu, Komnas HAM juga meminta Kapolri segera mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya agar menenangkan warga di Poso yang saat ini marah. “Kami menyesalkan tindakan Densus 88 yang sangat represif sehingga malah memprovokasi kemarahan warga,” tandas Siane.

Versi Polisi

Kendati Komnas HAM telah berusaha melacak data-data di lapangan, namun Mabes Polri tetap bersikukuh, tewasnya Nudin alias Bondan karena melawan saat hendak ditangkap.

“Penangkapan dilakukan saat yang bersangkutan keluar kawasan Kayamayang menuju ke Jalan Irian, dan anggota berupaya melakukan penangkapan, namun yang bersangkutan melawan,” ungkap Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Polri Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta, Selasa (11/6).

Agus Rianto juga menyebutkan, terduga teroris itu mengeluarkan senjata api. “Karena melawan dan tidak menutup kemungkinan akan membahayakan orang lain termasuk petugas,” ucap Agus.

“Akhirnya anggota berusaha melumpuhkan dengan cara memberi tembakan. Akibat peristiwa itu tersangka meninggal dunia. Dari peristiwa tersebut kita berhasil menyita satu senjata api, berikut enam butir peluru dan saat unu jenazah sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu,” papar Agus.

Kabag Penum mengatakan, keterkaitan terduga teroris Nudin karena terlibat aksi teror di Poso, terlibat fa’i bersama Abu Roban yang tewas tertembak di Jawa Tengah. “Nudin mencari dukungan logistik yang dilakukan kelompok Santoso dan juga kelompok Asmar atau Roy,” tambah Agus.

Kini, jenazah Nudin alias Bondan selesai diotopsi oleh petugas medis RS Bhayangkara Palu, Selasa (11/6), kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Polda Sulawesi Tengah AKBP Dicky Aryanto.

Kepada wartawan Dicky Aryanto mengatakan jenazah tiba dari Kabupaten di Rumah Sakit Bhayangkara Palu sekitar pukul 07.00 WITA, usai menjalani proses otopsi jenazah akan dikembalikan kepada keluarga di Poso.

Dalam otopsi disebutkan, Nudin alias Bondan mengalami luka tembak di bagian belakang, sehingga tewas.

Tewasnya Nudin mendapat reaksi keras dari masyarakat Poso. Ratusan warga mendatangi Mapolres Poso guna meminta jenazah untuk segera dikembalikan kepada keluarga untuk dimakamkan, namun saat itu polisi menolak dengan alasan jenazah akan diotopsi terlebih dahulu.

Nudin adalah kakak dari Andi Brekele, terduga teroris yang juga tewas tertembak di Dompu, Nusa Tenggara Barat, pada Januari 2013.(MARD/Ant)