Hari-Hari Panas Jelang Harga BBM Naik

Sayangi.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tampaknya tinggal menunggu hari. “Paling lambat tanggal 17 Juni 2013,” kata Menko Perekonomian Ir. Hatta Rajasa beberapa hari lalu, memberi sinyal kapan Pemerintah akan menaikkan harga BBM. 

Pernyataan Hatta Rajasa tersebut disampaikan setelah Pemerintah merampungkan skema program BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) sebagai kompensasi bagi rakyat miskin yang terkena dampak kenaikan harga BBM. Parpol pendukung pemerintah yang tergabung dalam setgab, pekan lalu juga sudah mengambil sikap untuk mendukung kenaikan harga BBM. Meskipun sikap PKS masih mendua dan disebut-sebut akan menolak kenaikan harga BBM, mayoritas anggota DPR diprediksi akan menyetujui APBN-Perubahan yang diusulkan Pemerintah pada Sidang Paripurna DPR RI pada hari Jumat (15/6).

Seperti menjelang kenaikan harga BBM di masa lalu, kebijakan ini selalu disertai pro-kontra. Pihak yang setuju berpendapat bahwa kebijakan ini harus dilakukan walaupun pahit, antara lain karena subsidi BBM dalam APBN sudah terlalu tinggi hingga mencapai Rp260 triliun. Padahal subsidi itu  justru dinikmati oleh golongan menengah ke atas. Harga premium dan solar yang murah juga dianggap sebagai pemicu melonjaknya konsumsi BBM dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak yang menolak kenaikan harga BBM mendesak Pemerintah agar menyelesaikan terlebih dulu berbagai persoalan inefisiensi dalam pengelolaan minyak, termasuk praktik korupsi dan mafia BBM di Pertamina. Pemerintah masih bisa mencari solusi lain diluar opsi kenaikan harga BBM yang pasti akan berdampak pada melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok. Kenaikan harga bensin ibarat orang bersin, cepat menular kemana-mana.

Pro-kontra kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh berbagai aksi unjuk rasa yang dimotori oleh para aktivis, mahasiswa, serikat buruh, serikat rakyat miskin kota dan perkumpulan-perkumpulan lain. Harap maklum, mereka adalah kelompok masyarakat yang merasakan langsung dampak dari kenaikan harga BBM. Tarif angkutan umum termasuk ojek pasti akan naik, harga makanan di warteg naik, sejumlah bahan kebutuhan pokok bahkan sudah naik sejak beberapa minggu lalu. “Apapun alasan Pemerintah, rakyat  pasti  pengkor (terpincang-pincang) menghadapi dampak kenaikan harga BBM,” kata budayawan Ridwan Saidi.  

Rakyat yang paling merasakan dampak kenaikan harga BBM adalah kelas menengah bawah, yaitu mereka yang penghasilannya pas-pasan tetapi tidak termasuk kategori pra-sejahtera yang berhak menerima dana BLSM atau berbagai program kompensasi lainnya. Maka kelompok inilah yang banyak terlibat dalam aksi-aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM.

Demo mahasiswa menolak kenaikan harga BBM sudah terjadi di beberapa daerah, dua diantaranya diwarnai kerusuhan yakni di Makassar dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Hari ini di Jakarta dijadwalkan akan berlangsung dua aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, satu di depan gedung DPR, satu lainnya di depan istana negara. Akankah ada titik temu antara kelompok yang pro dan kontra terhadap kenaikan harga BBM? Atau suhu politik akan memanas?  
(RH)