Bentrokan Turki: Tayyip Endorgan Tak Mau Menyerah

 

 

 

Istanbul, Sayangi.com – Polisi anti huru hara Turki berusaha untuk meminimalisir bentrokan dengan para pengunjuk rasa semalam. Ketegangan ini sudah terjadii hampir dua minggu setelah demonstrasi anti pemerintah dimulai.

Perdana Menteri Tayyip Erdogan, yang telah berulang kali menolak untuk bertemu dengan para demonstran yang dianggap sampah masyarakat, diperkirakan akan bertemu dengan dengan koordinator lapangan aksi massa pada Rabu (12/06) meskipun salah satu kelompok inti mengatakan tidak diundang dan tidak akan hadir pula.

Polisi menembakkan tembakan dari tabung gas air mata ke tengah kerumunan ribuan di Taksim Square tanpa peringatan pada sore hari pada hari Selasa (11/06). Tak hanya para pengunjuk rasa, gas air mata tersebut juga turut mengenai masyarakat sipil yang lain seperti mereka yang baru pulang kantor dan masih mengenakan pakaian kerja serta keluarga dengan anak-anak mereka dan para pemuda yang berjuang seharian dengan masker yang mereka gunakan. 

Beberapa petugas hotel berusaha untuk membuka jendela mereka untuk memungkinkan orang masuk ke dalam untuk berlindung. Selain gas air mata, aparat juga mengerahkan water canon yang bertujuan untuk membersihkan para pemuda yang melakukan penyerangan dengan melemparkan batu ke arah petugas.

Protes keras masyarakat berawal dari rencana pembangunan kembali Taman Gezi di Taksim. Hal ini mengundang kecaman internasional dan seruan untuk menahan diri. Langkah terbaru polisi datang sehari setelah Erdogan sepakat untuk bertemu dengan para pemimpin protes yang terlibat dalam demonstrasi awal.

“Tidak ada ruang untuk dialog ketika ada kekerasan yang sedang berlangsung,” kata Mucella Yapici dari Taksim Solidaritas Platform, kelompok inti di balik kampanye Gezi Park.

Nyanyian geng demonstran hard-core mengejek polisi di jalan sempit yang mengarah ke perairan Bosphorus tadi malam. Para pekerja kota menggunakan buldoser untuk menghapus sisa-sisa kendaraan yang dirusak dan membersihkan pusat kota dari bekas-bekas kerusuhan.

Polisi juga menembakkan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa di pusat ibukota, Ankara.

Erdogan sebelumnya meminta pengunjuk rasa untuk tetap keluar dari Taksim, di mana tindakan keras polisi terhadap pengembangan Taman Gezi memicu gelombang protes belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota di seluruh Turki selama hampir dua minggu lalu.

Keras hati

Taman Gezi Taman kini telah berubah menjadi pemukiman kumuh yang diisi dengan tenda-tenda kaum kiri, pegiat lingkungan, para kaum liberal, mahasiswa dan para profesional yang melihat rencana pengembangan sebagai gejala dari pemerintahan yang sewenang-wenang.

Selama demonstran protes dengan menggunakan kembang api dan bom molotov, sengaja untuk mendesak otoritas Endorgan dalam menata negara. Namun, Erdogan yang hingga saat ini menyangkal dikatakan otoriter menolak untuk menanggapi tuntutan para demonstran dan tidak akan menyerah.

“Mereka mengatakan perdana menteri kasar. Lantas saya harus melakukan apa pada mereka? Apakah kita akan berlutut di depan orang-orang itu?” ujar Endorgan.

“Jika Anda menghubungi kekasaran ini, aku minta maaf, tapi Tayyip Erdogan tidak akan berubah,” katanya dalam pertemuan kelompok parlemen Partai AK nya pada hari Selasa.

Negara-negara Barat telah menyuarakan keprihatinan tentang masalah dalam sekutu NATO yang penting berbatasan Suriah, Irak dan Iran. Amerika Serikat telah lama mengangkat Erdogan Turki sebagai demokrasi Islam yang bisa ditiru di tempat lain di Timur Tengah.

“Kami terus mengikuti peristiwa di Turki dengan keprihatinan, dan ketertarikan kami dalam mendukung kebebasan berekspresi dan berkumpul, termasuk hak untuk protes dengan damai,” kata juru bicara Gedung Putih Caitlin Hayden dalam sebuah pernyataan di Washington.

Pemenang Pemilu tiga kali berturut-turut di Turki, Erdogan mengatakan protes direkayasa oleh sekolompok pengacau, unsur-unsur teroris dan pasukan asing yang tidak bisa disebutkan namanya. Pengkritiknya, yang mengatakan unsur religius konservatif telah menang atas sentris dalam Partai AK, menuduhnya mengobarkan krisis dengan cara tidak mau bicara sepatah katapun.

Kerusuhan itu telah mengetuk kepercayaan investor di negara yang telah mengalami kemajuan pesat di bawah Erdogan. Lira, sudah mulai turun akibat gejolak pasar global akhirnya jatuh pada hari Selasa (11/06) ke level terlemah terhadap dolar / euro sejak Oktober 2011. Biaya mengasuransikan hutang Turki terhadap standar, meningkat ke level tertinggi dalam 10 bulan, meskipun masih jauh dari tingkat krisis.

Medical Association Turki mengatakan bahwa pada Senin (10/06) malam, 4.947 orang telah mencari pengobatan di rumah sakit untuk luka. Mulai dari luka ringan, luka bakar hingga kesulitan bernapas karena menghirup gas air mata, sejak kerusuhan dimulai lebih dari 10 hari yang lalu. Hingga saat ini diketahui, tiga orang tewas. (FIT/Reuters)