Pilpres Iran: Calon Moderat Digadang Saingi Kelompok Garis Keras

Dubai, Sayangi.com – Pemilihan presiden hari Jumat (14/6) di Iran tidak mungkin untuk membawa perubahan yang signifikan terhadap republik Islam, dimana pimpinan tertingginya didominasi kandidat garis keras. Namun, salah satu calon moderat bisa jadi akan membuat pertarungan dalam merebut posisi tertinggi di negara tersebut menjadi hal yang mungkin bisa membalik keadaan.

Kekuatan dunia seringkali menjadikan Iran sebagai buah bibir mengingat program nuklirnya yang bersengketa dengan banyak negara. Namun saat ini, Iran sedang coba untuk dikomunikasikan ulang setelah delapan tahun cukup kaku di bawah pimpinan Presiden Mahmoud Ahmad Dinejad. 

Warga Iran yang tanpa kompromi merundingkan persoalan Nuklir, Saed Jalili,  cukup terkemuka di antara empat kelompok garis keras yang bersaing untuk maju, sementara salah satu pendahulunya, Hassan Rohani, telah didukung oleh reformis moderat setelah mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dilarang.

Sementara mengintensifkan sanksi terkait nuklir Iran telah menjadi topik paling panas dalam pemilu, isu global utama lainnya adalah dukungan atas Presiden Bashar al-Assad dan Hizbullah Libanon dalam perang sipil Suriah, belum diangkat oleh enam calon.

Ahmadinejad, yang menyerukan penghancuran Israel, tidak akan terlupakan bagi negara-negara barat. Akan tetapi, harapan untuk tumbuhnya perubahan yang radikal seperti belum mencapai pada harapan yang diinginkan. 

“Akan lebih baik untuk tidak memiliki seseorang seperti Ahmadinejad yang tidak akan membuat banyak perbedaan pada negeri kalian. Kami tidak akan menunggu lama untuk pemilihan presiden baru. sebab, pemimpin tertinggi di Ira telah menjalankan kebijakannya dengan baik,” kata diplomat barat.

“Presiden Iran akan duduk manis di mejanya ketika kebijakan luar negeri Iran dan kebijakan nuklir diputuskan,” Mohsen Milani, seorang ahli Iran di University of South Florida mengatakan kepada wartawan. “Pemilu itu tidak gratis. Tapi sangat signifikan untuk membuat perubahan itu,” lanjutnya. 

Setelah dilakukan demontrasi besar-besaran mendukung Ahmad Dinejad pada 2009, Khamenei jatuh bersamanya setelah menggunakan demonstrasi besar-besaran itu untuk mengambil sebuah kebijakan. Para pengamat mengatakan Khamenei menginginkan presiden yang memenuhi persayaratan yang baik, tetapi di atas semua, ia tidak ingin ada pengulangan kerusuhan seperti yang pernah terjadi di tahun 2009.

“Ada ketakutan tertentu pada ezim tentang potensi kerusuhan dan ketidakpuasan yang lebih besar mengalir memenuhi jalan-jalan di Iran. Mereka benar-benar ingin mengelola pemilu ini dengan baik,” Hooman Majd wartawan Iran di US.

“Ini tidak menjadi hal yang biasa. Karena pemilu ini berbeda dengan Pemilu di masa lalu yang lebih bebas,” tambahnya.

Reformis, yang dipimpin oleh mantan presiden Mohammad Khatami yang memenangkan pemilu lengser pada tahun 1997 dan 2001, didukung Rohani pekan ini, menambah tekanan pada kelompok garis keras untuk meluluhkan posisi mereka. 

Rafsanjani juga telah mendukung Rohani, yang menjadi penasihat keamanan nasional ketika menjadi presiden.

Rohani telah secara terbuka mengkritik keamanan yang saat ini berjalan dan bersumpah untuk meningkatkan hubungan Iran dengan dunia luar. Beberapa anggota tim dan pendukung Rohani itu ditangkap setelah panggilan untuk pembebasan tahanan politik dinyanyikan di salah satu kampanye pemilunya. (FIT/Reuters)