Perekonomian Mencekik, Nikah Muda Membayangi Pengungsi Suriah

Yordania, Sayangi.com – Pengungsi Suriah di Yordania, yang tidak melihat tanda-tanda kemelut akan berakhir, menawarkan anak-anak perempuan mereka menikah muda dengan harapan bisa melindungi dari tekanan ekonomi.

Pengungsi Suriah Abu Mohammad mengatakan terpaksa memilih menikahkan anak perempuannya, yang baru berusia belasan tahun, dengan lelaki kaya Saudi berusia 40-an tahun, dengan harapan anaknya mendapat kehidupan lebih baik dan membantu kesulitan ekonomi keluarga.

“Itu adalah pilihan terakhir yang ingin saya lakukan,” kata Abu Mohammad (50 tahun) kepada AFP di luar tendanya di utara kamp pengungsi Zaatari yang didiami lebih dari 160 ribu pengungsi Suriah –setara dengan populasi kota terbesar kelima di Yordania.

Ayah enam orang anak itu mengatakan setelah pernikahan tiga bulan lalu, suami anaknya berjanji untuk membantu keluarga mereka hingga krisis berakhir dan kami pulang ke rumah.

“Hanya Tuhan yang tahu kapan itu akan terjadi,” katanya.

Perwakilan Badan PBB untuk anak-anak UNICEF di Yordania, Dominique Hyde mengatakan belum jelas bagaimana praktik semacam itu menyebar luas namun ia mengakui ada indikasi praktik itu telah berlangsung.

“Informasi yang kami kumpulkan selama kunjungan pemantauan menunjukkan bahwa telah terjadi pernikahan paksa dan pernikahan dini,” katanya.

“Pernikahan paksa dan di usia muda adalah masalah hak asasi dan kesehatan.” Menurut Menteri Dalam Negeri Hussein Majali, pihaknya telah mencatatkan 1.029 pernikahan antara lelaki Yordania dengan perempuan Suriah sejak para pengungsi mulai membanjiri negara kerajaan itu pada 2011.

“Pernikahan antara lelaki non-Yordania dan perempuan Suriah tercatat 331 orang. Data ini masih berada pada level normal,” katanya.

Yordania mengatakan menampung sekitar 500 ribu warga Suriah. Lebih dari 70 persen diantaranya adalah perempuan dan anak-anak.

“Warga Yordania dan warga Arab lain sering mendatangi kami menanyakan apa ada perempuan Suriah yang mau menikah,” kata Fares Hosha (42 tahun), mantan pegawai kantor pos yang sekarang membuka toko menjual barang-barang keperluan rumah tangga.

“Dua lelaki dari luar Zaatari baru-baru ini mengajukan pertanyaan yang sama. Seorang pelanggan kami mengatakan ia punya dua anak perempuan. Ketiganya kemudian meninggalkan toko ini bersama dan saya tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.” Hosha berpikir, para pengungsi mungkin menerima “perkawinan darurat tanpa syarat” seperti itu karena mereka takut menghadapi ketidakpastian dan ingin memastikan anak mereka selamat.

Anak-anak perempuan Said, yang baru berumur 15 dan 16 tahun, menikah sebulan lalu.

“Saya tidak punya pekerjaan, lumpuh dan saya tidak bisa membantu keluarga saya,” kata ayah 10 anak ini.

“Apa yang bisa saya lakukan? Kampung ini tempat berbahaya dan saya mengkhawatirkan anak-anak perempuan saya. Saya sara pernikahan adalah solusinya,” katanya.

Hukum Yordania membolehkan perempuan dibawah 18 tahun menikah dengan persetujuan pengadilan.

Jika pengadilan berpendapat pernikahan adalah pilihan terbaik baik si gadis, maka ia bisa menikah pada usia 15 tahun, kata UNICEF yang mendorong pengadilan untuk menegakkan aturan usia minimum pernikahan pada 18 tahun bagi lelaki dan perempuan.

Zayed Hammad, ketua komunitas masyarakat Ketab dan Sunna yang memberikan bantuan kepada ribuan pengungsi mengatakan, pihaknya menerima puluhan permintaan dari lelaki untuk membantu mencarikan calon istri di Zaatari.

“Kami ini kelompok sosial dan kami ingin fokus pada pekerjaan. Kami tidak ingin terlibat dalam isu ini yang bisa menciptakan masalah baru,” katanya.

Sementara itu di jalan utama di Zaatari, Abu Ahmad membuka toko perlengkapan pernikahan enam bulan lalu.

“Saat saya datng kesini, saya pikir ide bagus untuk membuka toko,” kata lelaki berjenggot berusia 40 tahun itu.

“Setiap hari saya menyewakan setidaknya satu gaun pengantin dengan harga sekitar 20 dinar Yordania (28 dolar AS).” “Dalam kondisi darurat kita tahu perempuan dan anak-anak terancam risiko eksploitasi,” katanya.

Menurut pihak berwenang Suriah, pernikahan dini sudah biasa terjadi di negara tersebut bahkan sebelum krisis terjadi, namun ada perubahan dalam praktiknya sejak kedatangan para pengungsi ke Yordan. Terutama terkait jauhnya perbedaan umur antara pengantin lelaki dan perempuan.

Sebuah kelompok pegiat Suriah yang menamakan diri Kampanye Nasional Perlindungan Perempuan Suriah mencoba melawan praktik pernikahan semacam ini dan membuat akun Facebook yang sudah memiliki 20 ribu pengikut.

“Perempuan Suriah bukan budak. Kita tidak bisa tinggal diam melihat perbudakan tersembunyi dan perdagangan seks ini,” kata kelompok tersebut.

“Pernikahan semacam ini murni didorong oleh insting seksual,” katanya.

Namun demikian, beberapa pengungsi justru membela pernikahan dini.

Mantan petugas keamanan Said Hariri (60) mengatakan pernikahan dini bukan sesuatu yang luar biasa.

“Dalam tradisi kami adalah biasa seorang gadis menikah pada usia 16 tahun. Jika ada gadis yang belum menikah pada usia 20 tahun orang-orang akan menyebutnya perawan tua,” katanya.

“Saya sendiri menikah pada usia 17 tahun. Anda harus mengerti kenapa orang tuan menikahkan anaknya pada usia muda, terutama dalam kondisi seperti sekarang ini.” Namun Hyde tidak sepakat dengan pendapat itu.

“Apapun konteksnya, eksploitasi macam itu mengorbankan mereka yang lemah dan ini tidak bisa diterima,” katanya. (FIT/Ant)