Dampak Penurunan Nilai Rupiah Hanya Sementara

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Franky Oesman Widjaja menegaskan, penurunan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hanya berdampak sementara bagi dunia usaha.

“Hanya terjadi dampak psikologis sementara saja saat terjadi ‘profit taking’ investor di pasar modal. Namun, hal itu sudah ditangani oleh pemerintah,” kata Franky Oesman Widjaja di Jakarta, Rabu.

Franky juga mengatakan, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar memang memberikan keuntungan kepada eksportir, tapi nilainya sangat kecil. Dunia usaha dan eksportir, kata dia, justru merasa lebih baik bila nilai tukar rupiah stabil. Nilai tukar rupiah selama ini sudah cukup stabil, tapi karena sempat terjadi aksi “profit taking” di pasar modal, terjadi kebutuhan dolar sangat banyak dalam waktu singkat.

“Namun, karena ekspor kita juga banyak, jadi bisa mengimbangi kebutuhan dolar di dalam negeri. Para eksportir diharapkan juga bisa segera membawa dolarnya kembali,” tuturnya.

Sementara Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto menyatakan, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar tentu menjadi keprihatinan semua pihak apabila terus-menerus. Nilai rupiah yang terus melemah akan berdampak pada stabilitas impor. “Namun kami yakin Pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Yang penting ekspansi ekspor Indonesia terus dikembangkan untuk membantu likuiditas dalam negeri,” katanya.

Nilai tukar rupiah, pada Rabu pagi, menguat ke posisi Rp 9.820 per dolar AS, seiring langkah Bank Indonesia (BI) yang melakukan intervensi di pasar uang. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi bergerak menguat sebesar 18 poin menjadi Rp 9.820 dibandingkan dengan sebelumnya di posisi Rp 9.838 per dolar AS.

“Dalam dua hari terakhir BI cukup gencar melawan pasar akibat meningkatnya permintaan dolar AS, baik untuk kebutuhan riil maupun spekulasi,” kata Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Rabu. (MSR/ANT)