Rekayasa Kasus Antasari Makin Terkuak

Jakarta, Sayangi.com – Meskipun ditutup rapat-rapat bau bangkai pasti tercium juga. Pepatah itu berlaku setelah mencermati keterangan sejumlah saksi dalam sidang Pra Peradilan SMS Gelap di Pengadilan Jakarta Selatan yang dimohonkan oleh Antasari Azhar.

Setelah sebelumnya Anas Urbaningrum, Ahli Tehnologi Informasi ITB Agung Harsoyo, serta adik kandung (Alm) Nasiruddin sendiri, Andi Syamsudin, secara eksplisit menyebutkan keterlibatan Antasari Azhar melalui SMS gelap dalam kasus pembunuhan Direktur Utama Rajawali Banjaran Nasiruddin Zulkarnaen adalah rekayasa, kini dua saksi kembali memperkuat dugaan itu.

Budhi Yuwono, rekan almarhum Nasruddin Zulkarnaen, mengaku Nasruddin tidak pernah mengeluhkan adanya ancaman lewat pesan pendek atau “SMS” dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar. “Yang diceritain tidak pernah mengalami satu keluhan atau rasa yang enggak wajar,” kata Budhi dalam kesaksiannya di persidangan gugatan praperadilan Antasari Azhar terhadap Mabes Polri, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu. (12/6)

Menurut Budhi yang kenal akrab dengan almarhum sejak 2004 silam, menegaskan tidak pernah mendengar adanya perselisihan antara Nasruddin dan mantan ketua KPK itu. “Saya tidak pernah dengar perselisihan antara Antasari dengan Nasruddin tidak pernah. Saya malah pernah ingin dikenalkan (dengan Antasari),” ujarnya.

Kepada Hakim tunggal Didik Setyo Handono, Budhi yang merupakan Direktur PT Bumiredjo itu mengaku kenal dekat dengan Nasruddin. Keduanya juga kerap berkomunikasi secara intens. Bahkan, diceritakannya, Nasruddin kerap berkunjung ke kediaman Budhi.

Ditambahkan, Nasruddin juga pernah ikut membantu Budhi menangkap kakak dan adik Arthalyta Suryani alias Ayin yakni Simon Susilo dan Aman Susilo terkait pemalsuan surat kuasa untuk membobol uang perusahaannya. Dalam kasus pemalsuan surat kuasa itu, tak kurang dari Rp32 miliar di Bank Danamon dan 1,4 juta dolar AS atau Rp45 miliar di Bank Mandiri berhasil dibobol oleh keduanya.

Nasruddin yang punya kenalan perwira tinggi Polri, diceritakan Budhi, membantunya melaporkan kedua saudara Arthalyta ke Polda Lampung pada 2005. “Kemungkinan ada yang dendam dengan Pak Nasruddin, ‘kan dulu dia pernah membantu saya, ketika saya berselisih dengan adiknya Arthalyta Suryani,” ujar Budhi.

Dijelaskan pula, saat itu yang menangkap langsung adalah Nasruddin dibantu Kapolres yang kala itu dijabat Williardi Wizard. “Minta bantuan Pak Williardi karena teman dekatnya (Nasruddin), maka ditangkaplah adiknya Arthalyta itu,” jelasnya.

Kesaksian senada diungkap Muchtar Pakpahan yang bahkan menyebutkan ada rekayasa untuk menjatuhkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar. “Saya waktu itu jadi aktivis untuk dorong KPK dalam kasus IT di KPU dan juga Century, sehingga saya menduga ada rekayasa untuk jatuhkan Antasari agar tidak melanjutkan kasus besar itu,” kata Muchtar yang menjadi saksi ahli tata negara dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (12/6) tadi.

Dijelaskannya, ada tiga motif yang bisa menjerat Antasari dalam kasus itu, yaitu untuk merusak karakter seseorang, untuk melindungi seseorang, juga sebagai bentuk pengalihan isu.

Menurut Muchtar, laporan terkait SMS gelap bernada ancaman yang dikirim Antasari kepada Nasruddin sebenarnya bisa diungkap mudah. Hanya saja, ada kesan bahwa polisi tidak serius menindaklanjutinya. “Polisi selaku penegak hukum harusnya komitmen bahwa penegakan hukum pasti terungkap,” katanya.

Selain Muchtar Pakpahan, sidang kali ini juga menghadirkan dua saksi fakta, yaitu Budhi Yuwono (sahabat Nasruddin) dan Boyamin Saiman (mantan tim advokasi keluarga Nasruddin).

Sebegaimana diberitakan sebelumnya, Antasari Azhar mengajukan praperadilan kepada Polri di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait laporan mantan Ketua KPK itu mengenai short message services (SMS) gelap yang diterima almarhum Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, yang belum juga ditindaklanjuti Badan Reserse Kriminal Polri.

Laporan terkait dengan SMS itu ke Bareskrim Mabes Polri dan diberikan tanda bukti pelaporan Nomor Surat TBL/345/VIII/2011/Bareskrim tanggal 25 Agustus 2011 berisi ancaman yang dikabarkan dikirimkan Antasari kepada Nasrudin.

Antasari sendiri mengaku tidak pernah mengirim SMS ancaman itu. Namun, hingga saat ini, ada tidaknya SMS itu belum juga bisa dibuktikan. Padahal hasil pengusutan SMS gelap itu diharapkan bisa menjadi bukti baru dalam kasus yang menjerat Antasari dihukum 18 tahun penjara atas kematian Nasruddin. (MARD/Ant)