SBY: “Saya Ambil Risiko Politik Naikkan Harga BBM”

Jakarta, Sayangi.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam konferensi pers di Istana Negara, Rabu sore ini menegaskan, pemerintahannya mengambil segala risiko politik dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Presiden SBY juga menyatakan, dirinya tidak mau membebani Presiden yang akan datang karena harus menaikkan harga BBM saat baru menjabat.

Sejak tahun 2011, papar SBY, sebenarnya sudah banyak masukan agar Presiden menaikkan harga BBM, dengan berbagai alasan. Diantaranya harga minyak dunia yang terus menguat dan beban subsidi yang terus meningkat. Namun menurut SBY, kalau masih ada cara lain, untuk apa menaikkan harga BBM. “Karena saya tahu implikasinya,” tegas SBY.

Pemerintah, menurut Presiden, telah mengajukan RAPBN-P 2013 dengan pertimbangan yang sangat mendalam dan tidak asal-asalan. Skema pengurangan subsidi BBM dihitung secara cermat. DPR, menurutnya, tahu bahwa pengurangan subsidi itu memiliki konsekwensi yang akan memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM. Dia berharap dalam satu dua hari ini DPR dapat menghasilkan kesepakatan untuk menetapkan APBN-P 2013 definitif.

SBY menghimbau masyarakat agar tidak terlalu mudah terpengaruh oleh pihak-pihak tertentu yang mengklaim mencintai rakyat. “Kita semua mencintai rakyat,” tegasnya. Karena mencintai rakyat, maka Pemerintah secara moral punya kewajiban untuk menyediakan dana kompensasi bagi rakyat kecil yang akan terkena dampak kebijakan ini.

Presiden antara lain menyebut beberapa program, seperti meningkatkan anggaran beras untuk rakyat miskin,
beasiswa bagi rakyat miskin, serta bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM). Menurut SBY, BLSM bukan khas kebijakan Indonesia, karena banyak negara lain di dunia juga memiliki program cash transfer untuk perlindungan masyarakat.

Dalam penutup pidatonya, Presiden mengajak masyarakat dan ormas untuk bersatu menyikapi kenaikan harga BBM ini, serta menomorduakan kepentingan politik praktis menjelang Pemilu 2014. (MSR)