Gerindra Panaskan Tensi Penolakan Kenaikan BBM

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menegaskan, rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) patut dikaji ulang dalam postur Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPB-P) 2013.

“Rencana kenaikan harga BBM menjadi patut dikaji lagi, sebab jika dilihat lebih detail, postur RAPBN-P saat ini masih ditemukan banyak anomali logika yang keliru,” kata Fadli Zon di Jakarta, Rabu (12/11). Fadli menambahkan, anggaran Rp 12 triliun untuk alokasi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sudah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang artinya, harga BBM subsidi akan mengalami kenaikan.

Namun, lanjut Fadli, kebijakan kenaikan harga BBM subsidi ini masih dipandang tak masuk akal. Alasannya karena pada saat bersamaan alokasi anggaran untuk subsidi BBM justru meningkat. Masih kata Fadli, kenaikan harga BBM yang dibarengi dengan kenaikan subsidi BBM dapat dilihat dari beberapa anomali logika yang sangat mencolok.

“Rencananya, harga premium akan naik Rp 2.000 dan solar Rp 1.000, tetapi subsidi BBM juga naik dari Rp 194 triliun menjadi Rp 210 triliun. Logikanya, harusnya alokasi subsidi BBM turun jika harga BBM naik,” kata Fadli. Selanjutnya, Fadli mengemukakan, pada RAPBN-P 2013, pendapatan negara turun dan alokasi belanja naik, akibatnya terjadi defisit keseimbangan primer dan defisit total yang melebar dan memaksa negara untuk menambah utang.

“Pendapatan perpajakan turun Rp 53,6 triliun, sedangkan belanja naik Rp 39 triliun, dan belanja lain-lain naik Rp 53,6 triliun, akibatnya defisit melebar dari Rp 153,3 triliun menjadi Rp 233,5 triliun,” ujar Fadli. Keanehan lain postur RAPBN-P 2013, jelas Fadli, terjadi pada anggaran perubahan Kementerian Kelautan dan Perikanan, ketika alokasi naik menjadi Rp 6,598 triliun dari Rp 5,944 triliun pada 2012. “Anehnya, Pemerintah malah mengusulkan Penerimaan Negara Bukan Pajak sektor perikanan turun dari Rp 215 miliar menjadi Rp 180 miliar,” tutup Fadli. (MSR)