Korsel dan Korut Kembali Tak Mau Berdialog

 

 

 

Seoul, Sayangi.com – Kabar terbaru antara rival abadi Korea Utara dan Korea Selatan mengindikasikan Pemerintah di Pyongyang,  terlihat seperti mengajak kembali berkonfrontasi dibandingkan dengan berdialog.

Awal tahun ini, Korea Utara mengancam serangan nuklir dan rudal terhadap Korea Selatan dan Amerika Serikat setelah dipukul dengan sanksi PBB untuk uji coba senjata nuklirnya Februari silam.

Dialog mereka yang dimaksudkan untuk membuka kembali zona industri gabungan tertutup dengan Selatan dalam merumuskan apa yang akan menjadi ukuran kepercayaan antara kedua negara yang tetap resmi berperang ini kembali digagalkan minggu ini.

Pembicaraan dibatalkan ketika kedua pihak Korea tidak setuju dengan pejabat yang diberikan tugas untuk bertemu di Seoul.

“Masalahnya ini bukan masalah sederhana yang berkaitan dengan tingkat kepala delegasi dalam dialog kami, tetapi hal ini seperti menunjukkan sebuah indikasi buruk dalam membatalkan pembicaraan antar pemerintah, ” kata Komite Utara untuk Reunifikasi Damai Korea dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita KCNA.

Seoul menginginkan yang datang dalam dialog di Seoul adalah Pimpinan Partai Senior Kim resmi Yang-gon, seorang penasihat yang dekat dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, untuk menghadiri pertemuan. Pyongyang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah terdengar hal seperti itu dalam hal protokol. Pejabat yang diinginkan datang itu terlalu senior untuk bertemu dengan Menteri Unifikasi Seoul yang merupakan delegasi dari Selatan.

Korea Selatan, adalah salah satu negara terkaya di dunia sementara sebalikan, Korea Utara yang lebih miskin, sekarang dipimpin oleh generasi ketiga dari “sosialis” keluarga penguasa, dirinya mengklaim sebagai penguasa sah satu-satunya seluruh semenanjung Korea.

Korea terbagi menjadi dua setelah Perang Dunia Kedua dan Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai permanen, sehingga hal tersebut membuat kedua negara ini terus berperang dan saling memperebutkan wilayah satu sama lain.

“Sepertinya tidak akan ada dialog yang bisa mempertemukan kedua belah pihak mengingat pertempuran urat syaraf masih terus terjadi diantara Korea Utara dan Korea Selatan,” kata Yang Moo-jin dari University of Korea Utara Studi di Seoul.

Para ahli mengatakan, Korea Utara sering bergantian dari ancaman tindakan militer untuk negosiasi dalam upaya untuk memberikan bantuan. Tujuan jangka panjang adalah untuk memenangkan pengakuan diplomatik dari Amerika Serikat dan diakui sebagai negara senjata nuklir.

Secara ekonomi mikro, Korea Utara harus memiliki pilihan lain untuk mengembangkan perekonomiannya dan mendapatkan pengakuan di hadapan dunia karena keamanan regional melalui senjata nuklir dan program rudal jarak jauh yang dimilikinya dianggap sebagai ancaman besar.

Jang Jin-sung, mantan pejabat Korea Utara yang membelot dan sekarang menjalankan situs web yang disebut New Focus International. “Secara budaya, Korea Utara memulai dengan menciptakan suasana tegang dan lebih menunjukkan sikap kerasnya,” tulisnya. 

Pembicaraan minggu ini telah ditujukan untuk membuka kembali sebuah zona industri Utara ditutup awal tahun ini di tengah ancaman perang. Zona Kaesong menghasilkan sekitar $ 90 juta per tahun upah bagi lebih dari 50.000 warga Korea Utara yang bekerja di sana.

Salah satu sekutu besar diplomatik Korea Utara, Cina, telah mendesak Pyongyang untuk meninggalkan program senjata nuklirnya dan kembali pada upaya dialog untuk perdamaian. (FIT/Reuters)