Bentuk Protes Rakyat Turki: Mendirikan Tenda dan Menanam Pohon Zaitun

 

 

 

Istanbul, Sayangi.com – Perdana Menteri Turki, Tayyip Erdogan mengatakan Rabu (12/6) bahwa ia telah memerintahkan menteri dalam negeri untuk mengakhiri protes yang kini melanda negaranya dalam waktu 24 jam, sementara sinyal keterbukaan terhadap referendum tidak terlihat sama sekali.

Sebagai bentuk protes, puluhan ribu orang mengalir kembali ke Taksim Square sehari setelah mereka diluluhlantakkan oleh polisi anti huru hara menggunakan gas air mata dan ledakan bertekanan tinggi dari water canon. Pengunjuk rasa bersumpah bahwa mereka tidak akan gentar dengan kekuatan pemerintah yang menyerang mereka. Mereka yang berunjuk rasa tampak lebih tinggi daripada beberapa hari terakhir. Banyak orang mengenakan masker gas darurat. Seorang pria memainkan lagu-lagu pop dengan pianonya untuk menghibur pengunjuk rasa yang setia berdiam dalam taman Gezi.

Sementara pertemuan antara Endorgan dengan anggota serikat pekerja yang dilakukan secara tertutup dilaporkan para pejabat berbicara tentang kondisi umum sementara para delegasi menyarankan untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan aparat harus diusut tuntas secara hukum, selain itu, mereka juga menuntut agar Taman Gezi tidak dibongkar apalagi dijadikan lahan pembangunan baru. Mereka juga menganggap bahwa Endorgan sudah mulai menunjukkan kepemimpinan yang diktator dan tidak berpihak pada masyarakatnya.

Erdogan juga bertemu di Ankara dengan sekelompok 11 arsitek, akademisi dan mahasiswa untuk membahas protes. Pertemuan di ibukota telah ditagih sebagai percakapan dengan pengunjuk rasa, tetapi hanya sedikit pengunjuk rasa di Gazi Park yang mengatakan bahwa delegasi yang bertemu Endorgan adalah perwakilan mereka.

Erdogan mengatakan kepada kelompok pemrotes bahwa pelanggaran polisi tidak akan ditoleransi dan bahwa ia mungkin terbuka terhadap referendum untuk menentukan nasib Gezi Park, kata seorang juru bicara untuk Keadilan perdana menteri dan Partai Pembangunan, Huseyin Celik.

“Mari kita bertanya warga Istanbul berapa banyak dari mereka inginkan, berapa banyak dari mereka tidak,” kata Celik.

Pada hari Rabu (12/6) , Presiden Turki Abdullah Gul telah menanggapi aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat Turki agar para pengunjuk rasa lebih tenang dan akan melakukan aksi dengan damai. Ia mengatakan pada wartawan, “Ini adalah tugas kita untuk mendengarkan aspirasi rakyat.”

Namun Erdogan adalah pemimpin yang tak mempedulikan hal itu dan justru memerintahkan pasukan keamanan untuk mengakhiri protes. Konfrontasi yang dilakukan Endorgan justru menambah luas partisipasi masyarakat untuk ikut melakukan unjuk rasa. Bahkan, mereka yang berada di basis pemenangan Pemilu Endorgan.

Unjuk rasa yang telah dilakukan masyarakat dan ditanggapi secara reaksioner oleh Endorgan menjadi tantangan terbesar dekade kekuasaannya. Rabu (12/6) Demonstran justru datang semakin banyak. Mereka yang berdekatan dengan Taksim berdatangan untuk menunjukkan solidaritas mereka. Mereka bersumpah untuk tetap berada di Taman Gezi dan akan membawa kekuatan lebih besar lagi dalam beberapa hari mendatang sampai tuntutan mereka dipenuhi. Beberapa dari mereka menanam pohon zaitun dan beragam bunga di Taman Gezi sebagai bentuk siimbol perlawanan mereka. Sementara yang lain, berhaga di tenda medis untuk mengantisipasi adanya tindak kekerasan yang dilakukan aparat kembali terjadi. 

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini,”kata Ugur Bayraktar, 36, seorang insinyur biomedis yang sedang memegang kacamata berenang berwarna ungu dan helm sepeda biru sebagai pertahanan darurat terhadap gas air mata dan proyektil. “Tapi semangat adalah bagian paling penting dalam perjuangan ini.” (FIT/Reuters)