PBB Tuding Tentara Suriah Rekrut Anak-Anak untuk Perang

PBB, Sayangi.com – Tentara Suriah dan kelompok pemberontak dinyatakan merekrut anak-anak untuk berperang dalam perang sipil dan beberapa di antaranya mengalami siksaan dari pasukan pemerintah akibat dituduh berhubungan dengan oposisi, demikian kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dalam sebuah laporan pada Rabu (12/6) waktu setempat.

Laporan tersebut diluncurkan setelah utusan khusus Ban untuk anak-anak dan konflik bersenjata, Leila Zerrogui, mengunjungi Suriah pada Desember 2012 mengatakan ribuan anak-anak tewas di tengah aksi kekerasan, “sementara ribuan lainnya menyaksikan anggota keluarga mereka terbunuh atau terluka”.

Laporan tersebut juga menyatakan banyak anak-anak direkrut, terbunuh, tercacati atau diperkosa oleh pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata di Afghanistan, Chad, Kongo, Somalia, Sudan, Sudan Selatan dan Yaman, serta milisi bersenjata di Mali, Kolombia, Filipina, Myanmar, Irak dan Afrika Tengah.

PBB mengategorikan setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun sebagai anak-anak.

Ban mengatakan di Suriah, penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap anak-anak yang dituduh berasosiasi dengan pasukan oposisi adalah tren yang mengkhawatirkan.

“Terdapat sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak laki-laki untuk menggali informasi atau pengakuan oleh pasukan pemerintah, sebagian besar oleh anggota badan intelijen negara dan militer Suriah,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

“Tahanan anak-anak, sebagian besar laki-laki dan paling muda berusia 14 tahun, menderita metode penyiksaan serupa atau identik dengan yang dilakukan terhadap orang dewasa, termasuk kejutan listrik, pemukulan, posisi stres dan ancaman serta tindakan siksaan seksual,” tulis laporan tersebut.

Kelompok oposisi bersenjata, termasuk Pasukan Pembebasan Suriah (FSA), juga dituduh menggunakan anak-anak, umumnya berusia 15-17 tahun, baik untuk berperang maupun peran pendukungnya, seperti mengantarkan makanan dan minuman serta mengisi senjata, demikian laporan tersebut.

“Dari kasus yang diterima, anak-anak yang berasosiasi dengan FSA kerap memiliki saudara yang lebih tua sebagai fasilitator perekrutan, atau mereka yang sudah tidak memiliki keluarga sama sekali,” tulis laporan tersebut.

Ban mengatakan bahwa pemerintah Suriah dan Koalisi Nasional Revolusi Suriah (NCSR) serta Pasukan Oposisi telah meyakinkan Zerrougui bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan PBB untuk menghentikan praktik pelanggaran hak-hak anak.

Chad berupaya izinkan prajurit anak-anak Laporan tersebut menyebutkan di Chad, meskipun telah terjadi kemajuan dan militer memiliki kebijakan untuk tidak merekrut anak-anak, terdapat 34 kasus terverifikasi perekrutan anak-anak ke pasukan bersenjata pada 2012/ “Seluruh 34 anak ternyata dimasukkan ke dalam proses rekrutmen selama Februari dan Maret 2012, kala itu militer mendapat 8.000 prajurit baru,” tulis laporan itu.

Militer Chad memegang peranan penting dalam membantu pasukan Prancis selama masa serangan militer untuk mengusir pejuang Islam yang menduduki dua pertiga wilayah Mali pada Januari 2013.

Sejumlah diplomat menyebutkan Chad bekerja sama dengan PBB untuk memberi izin perekrutan pasukan anak-anak agar negara tersebut dapat menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian di Mali, yang bulan mendatang akan menentukan pemerintahan baru.

Laporan itu juga mengatakan terdapat sejumlah kekerasan terhadap anak-anak oleh militer dan kelompok bersenjata di Kongo, di tengah kekacauan sepanjang tahun akibat ulah pemberontak M23. Pakar PBB menuduh Rwanda mendukung M23 tahun lalu, namun negara tersebut membantah hal tersebut.

“M23 bertanggung jawab atas perekrutan sistematis beserta eksploitasi anak-anak,” tulis laporan tersebut. “Secara keseluruhan 65 anak laki-laki berumur antara 13-17 tahun, termasuk 25 di antaranya mengaku sebagai warga negara Rwanda, yang melarikan diri atau menyerahkan diri dari M23 pada April hingga Desember 2012.” “Sebanyak 21 orang anak laki-laki tersebut, mengatakan telah direkrut di wilayah Rwanda. Meskipun kerap difungsikan sebagai perantara, sebagian besar berakhir di medan perang menjadi petarung atau pendamping para komandan mereka. Sejumlah pengakuan dari mantan prajurit M23 menyebutkan ratusan anak-anak masih berada di dalamnya,” demikian laporan tersebut. (FIT/Reuters)