Kemenangan Rouhani: Penebus Kesalahan Pemilu 2009

 

 

 

Teheran, Sayangi.com – Pemilih dalam pemilu Iran tampaknya telah lelah dengan pengisolasian ekonomi dan pembatasan politik. Hal itu terbukti dengan jatuhnya pilihan mereka pada Sabtu (15/6) dengan menyerahkan harapan mereka akan perubahan pada seorang ulama moderat Iran, Hassan Rouhani sehingga membuatnya menang telak dalam Pemilu Presiden yang dilakukan hari Jumat (14/6)

Setelah menunggu sepanjang Jumat dan Sabtu, jutaan warga Iran yang tinggal di negaranya sendiri maupun yang berada di luar negeri menyambut kemenangan Hassan Rouhani yang terlihat dalam euforia dan kelegaan bahwa akhirnya delapan tahun berada di bawah tekanan Mahmoud Ahmaddinejad akhirnya berakhir sudah.

Rohani memang bukan merupakan tokoh ulama yang radikal yang juga merupakan negosiator nuklir sehingga negara barat mau lebih lunak di masa kepemimpinan presiden moderat (1997-2003). Namun ia mampu mengalahkan kelompok garis keras konservatif, sehingga yang paling setia dengan sistem teokratis dan pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei merasa terkejut dengan perolehan suara yang didapatkannya.

Kejutan keduanya adalah bahwa pemilihan presiden tahun ini menjadi pemilihan presiden pertama yang demokratis, bebas dan adil sejak terpilihnya kembali Ahmadinejad pada 2009 silam.

Kemenangannya yang dikatakan untuk memperbaiki legitimasi Republik Islam rusak parah empat tahun lalu ketika hasil voting pemilihan presiden dikatakan tidak adil menyebabkan kerusuhan massa yang cukup besar. Dan mungkin, pemberitaan ini menjadi angin segar bagi kaum reformis dan meningkatkan suhu politik karena pada waktu itu mereka yang menanggung beban cukup berat, ditangkapi bahkan dibunuh karena dianggap sebagai dalang kerusuhan.

“Meskipun kelompok garis keras tetap mengendalikan aspek kunci dari sistem politik Iran, kaum reformis telah membuktikan bahwa bahkan ketika mereka coba untuk digeser kedudukannya dalam proses seleksi calon presiden Iran, suara rakyat masih tetap membuat mereka menang telak dalam pemilu presiden kali ini,” kata Trita Parsi, duta besar Iran di Amerika.

Setelah hasil akhir diumumkan dan rasa tegang berangsur berakhir, Rakyat Iran menikmati hasil dukungan solid mereka dan menyampaikan pesan pada pemimpin theokratis Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang mendominasi. Dari jalan-jalan Teheran dilaporkan, suasana yang meriah nampak. Jutaan pendukung Khamenei memeriahkan jalan-jalan dengan menggunakan atribut kampanye warna ungu mereka meneriakkan yel-yel, “Ahmadi, bye bye”.

EKONOMI DAN SANKSI

Kemenangan ini akan diikuti oleh tantangan bersama apakah Iran mampu bangkit kembali memperbaikin kerusakan yang dilakukan delapan tahun lalu yang menyebabkan ada mosi tidak percaya Barat kepada Iran.

Saat Ahmaddinejad memegang tampuk kekuasaan, Amerika dan sekutunya telah memberikan sanksi ekonomi atas kepemilikan nuklir dan pengayaan uranium yang dilakukan Iran. Hal itu menyebabkan inflasi naik dan membludaknya pengangguran.

Sementara Iran mengatakan bahwa pihaknya tidak akan berhenti mengembangkan tenaga nuklir dan mengatakan bahwa pengembangan nuklir merupakan hak Iran sebagai sebuah negara merdeka. 

Dengan adanya mandat yang kuat dari rakyat Iran, Rouhani bisa saja untuk membalikkan kondisi. Akan ada harapan bahwa Ulama berusia 64 tahun itu mampu untuk melakukan negosiasi lagi dengan pihak barat persoalan nuklir yang menjadi kontroversi. Tetapi, adanya pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei yang menjadi pemutus kebijakan negara, Rouhani pasti masih akan menghadapi batasan-batasan di wilayah tertentu. 

“Rouhani akan memilih kader inti di Departemen Luar Negeri dan Dewan Agung Keamanan Nasional agar bisa memberikan dampak dalam gerakan perubahan di Iran. Tetapi hasil keputusan umum akan dikonsultasikan kembali dengan pimpinan tertinggi, Ayatollah Khamenei. Dan tentunya Rouhani akan bekerjasama dengan dia,” kata anggota parlemen konservatif Ahmad Tavakoli, seperti dilansir kantor berita ISNA.

Begitu pula dengan persoalan pembebasan dua tahanan reformis yang menjalani tahanan rumah selama lebih daru dua tahun atas tuduhan menjadi provokator atau dalang kerusuhan pasca pemilu 2009. 

Sepanjang kampanye, pendukung Rohani telah mengingatkan kembali peristiwa yang terjadi tahun 2009. Mereka meneriakkan nama-nama dari dua pemimpin dipenjara, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karoubi, di acara-acara kampanye. Pembebasan kedua tokoh ini menjadi hal yang paling sering diteriakkan dalam yel-yel mereka.

Namun, hal itu berarti, mereka masih akan harus menghadapi kelompok konservatif yang belum siap menerima kekalahan dalam pemilu kali ini.

“Kemenangan Rohani harus memberikan substansi, bukan hanya sekedar polesan semata. Dan ini membutuhkan banyak orang untuk mengakui bahwa delapan tahun terakhir ini telah terjadi banyak sekali penyimpangan,” kata Ali Ansari, profesor di Universitas St Andrew di Skotlandia.

DUKUNGAN DARI LIBERAL

Ulama berusia 64 tahun itu telah berjanji akan menegakkan hak-hak sipil masyarakat dan juga hak-hak perempuan serta mereka yang berada pada etnis minoritas di Iran. Dia sangat kritis dengan penjagaan keamanan yang ketat menjelang Pemilu serta mendapatkan dukungan dari kelompok Liberal Iran sebagai hasilnya. 

Rupanya pemilih memang menghadapi keputusasaan dalam kondisi ekonomi Iran.

Mohammad Baqer Qalibaf, walikota Teheran yang sangat populer di kota sebagai walikota yang sangat baik dan memiliki track record yang baik dalam administrasi mengambil dua per tigas suara membuatnya berada di urutan kedua setelah Rouhani. u

“Kekalahan kelompok konservatif itu perlu,” Mohsen Rezaie, calon pemilu konservatif dan mantan kepala Pengawal Revolusi yang mengikuti Pemilu selama 4 kali.

“Mereka harus memahami bahwa seseorang tidak bisa memaksakan kehendak rakyat dan mengharapkan masyarakat untuk mendukung mereka,” katanya. 

Meskipun banyak seruan dari kelompok konservatif, namun dengan situasi yang terpecah belah membuat suara mereka menjadi hancur lebur.

Yang banyak diperkirakan orang akan menempati tempat pertama, Saeed Jalili, justru masuk di peringkat ketiga setelah Qalibaf.

“Iran khawatir dengan masa depan mereka (Prospek) jika Jalili terpilih menjadi presiden. Jalili terlalu memberikan perlindungan berlebihan pada lingkungan domestik. Hal itu membuat masyarakat berpikir ia akan menyebabkan situasi konfrontasi dalam negeri,” kata Farideh Farhi Hawaii University.

Iran mungkin harus menunggu dengan sabar untuk perubahan, karena struktur kekuasaan multi intern Iran secara bertahap mengikis kewenangan presiden selama dua dekade terakhir.

“Kemenangan Rouhani seperti sebuah penebus kesalahan atas pemilu presiden yang tercemar setelah pemilihan presiden 2009,” kata Ali Vaez, seorang analis di International Crisis Group.

“Ingat bahwa Iran diatur oleh lembaga yang kompleks dan pusat-pusat kekuasaan yang bersaing inheren mendukung kesinambungan atas perubahan radikal,” tambahnya. (FIT/Reuters)