Tjahyo Kumolo Curigai Agenda Jangka Pendek

Jakarta, Sayangi.com – Sekjen PDIP Tjahyo Kumolo mencurigai tidak hanya ada agenda ekonomi, tapi juga agenda politik jangka pendek: Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) di balik rencana Pemerintah menaikkan harga BBM.

“Pemerintah ini kan politis, ada agenda jangka pendek Pileg dan Pilpres. Kami PDIP tidak ingin dalam tanda kutip, mengorbankan rakyat dengan mengurangi subsidi BBM yang menjadi hak rakyat,” jelasnya di sela-sela Sidang Paripurna DPR, di Nusantara II Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/6).¬†Tjahyo menambahkan, apakah ada jaminan Anggaran Pembelanjaan Belanja Negara (APBN) tidak akan ‘ambrol’ jika subsidi BBM dikurangi? “Ini kan mau puasa dan lebaran,” kesalnya.

Sementara Anggota Fraksi Partai Demokrat Milton Pakpahan membantah ada agenda (Pilpres-red) untuk menaikkan harga BBM Subsidi. Menurutnya, rencana kenaikan BBM karena memang subsidi BBM itu jatahnya 46 juta kiloliter, namun saat ini kuota subsidi mencapai 48 juta kiloliter yang membuat APBN jebol.

“Negara kita tidak lagi bisa mengandalkan produksi minyak. Saat ini penggunaan minyak kita setengahnya impor,” bebernya. Jadi, lanjut Milton, Pemerintah bukannya menghapus subsidi untuk BBM, melainkan¬†menyesuaikan.

“Defisit anggaran APBN lebih dari 3%. Itu melanggar Undang-undang. Karena itu, perlu adanya realisasi signifikan perubahan asumsi makro, dimana salah satunya mengurangi subsidi BBM,” jelas anggota Dewan Daerah Pemilihan (Dapil) Papua itu. Milton berharap dengan dinaikkannya harga BBM subsidi, rakyat lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan BBM. Tidak lagi sering menggunakan kendaraan pribadi, menghemat pemakaian listrik, dan sebagainya.

“Pemerintah pasti sudah memikirkan dampak kenaikan BBM. Ya, kita tahu akan puasa dan lebaran, tapi kalau tidak dinaikkan, BBM hanya akan ‘terbakar’ di jalan. Ini pemborosan!” cetusnya. Selain itu, lanjut Milton, diversifikasi energi atau mengalihkan penggunaan dari energi fosil (migas) menjadi non fosil seperti panas bumi, uap, matahari, dan lain-lain. (MSR)