Massa Aksi Inginkan Reformasi Sistem Birokrasi di Brazil

Sao Paulo, Sayangi.com – Dengan protes besar-besaran yang menuntut pemerintahan yang adil dan bersih yang dilakukan kelas menengah di Brazil, orang di seluruh negeri terpanggil dan mengatakan bahwa lautan manusia yang peduli dengan Brazil telah terbangun.

Presiden Dilma Rousseff telah berusaha untuk menenangkan orang banyak dengan mendukung hak mereka untuk protes, dan pemerintah kota Sao Paulo telah membatalkan kenaikan 10 sen untuk tarif bus dan kereta bawah tanah yang memicu demonstrasi di Sao Paulo. Tetapi berbagai gerakan protes terus menumbuh dan bertambah besar. Kamis (20/6) terjadi dua gelombang protes yang melibatkan ratusan ribu manusia. Pemerintah Brazil nampaknya kebingungan bagaimana mengatasi tuntutan rakyatnya.

Pemerintah telah diminta para pengunjuk rasa yang meminta segudang tuntutan seperti pemerintah harus memberikan keamanan warga negara, tindak pejabat yang korup dan tidak efisien, lalu lintas yang tidak nyaman dan aman bahkan ada ponsel yang tidak bekerja karena fasilitas yang buruk. selain itu, banyaknya investasi yang harusnya masuk untuk biaya perawatan kesehatan dan pendidikan justru mengalir untuk stadion sepak bola dan bandara yang digunakan sebagai persiapan menuju piala dunia.

Tanggapan Rousseff sebenarnya sudah sedikit melebihi retorika. Namun, yang menjadi kesalahan adalah dia belum membentuk komite darurat untuk menangani krisis dan sekaligus memberikan gagasan besar atau ide-ide segar untuk meredam protes yang ada.

Salah satu pengunjuk rasa meluapkan kemarahannya dengan pemerintahan Brazil saat ini seperti, Rosana Reis, seorang perawat berusia 51 tahun yang mendukung gerakan protes rakyat Brazil yang meluap seperti air bah karena memprotes negara yang menghabiskan miliaran dolar rupiah hanya demi untuk menjadi tuan rumah piala dunia tahun depan dan olimpiade 2016 sementara rakyatnya hanya merasakan sejumput fasilitas yang tidak memadai dengan pajak tinggi yang harus dibayar masyarakat.

“Saya telah bekerja selama bertahun-tahun di rumah sakit umum dan saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana semua orang di Brazil menderita karena kemiskinan akud. Para politisi ini hanya peduli dengan piala dunia dan olimpiade. Semua uang negara dikerahkan untuk pembiayaan stadion dan bandara tanpa memberikan kesejahteraan pada kami dengan membelanjakan uang untuk perawatan kesehatan dan pendidikan. Kami sudah cukup sabar. Dan hari ini kami tunjukkan bahwa kami telah bangun dan sadar,” jelasnya.

Protes dimulai pekan lalu di Sao Paulo dan menyebar dengan cepat ke kota-kota lain setelah tindakan keras polisi terhadap demonstran pada masa awal terjadinya aksi. Mereka telah menjadi sebuah kolektif, jika terorganisir akan terus diperluas sampai dengan kelas menengah ke atas untuk melakukan gerakan protes yang lebih besar.

Kemarahan publik telah melihat bahwa saat ini mereka telah berhadapan dengan penguasa negeri. Alih-alih berurusan dengan satu kelompok dengan satu daftar tuntutan, pemerintah telah dihadapkan pada gerakan massa spontan.

Rousseff yang berasal dari partai buruh ini kemudian menemui Mantan Presiden Luiz Inacio dan Silva dan Walikota Fernando Haddad yang merupakan seniornya dalam partai kiri buruh yang cukup besar di Brazil untuk mencari solusi atas kemarahan yang dihadapi masyarakat.

Mereka melakukan peredaman massa sebelum kunjungan Paus bulan depan ke Rio dan di sekitar Sao Paulo.

“Respon dari kebanyakan politisi sudah cukup membuat kami berpikir bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hati. Mereka terpilih karena komitmen mereka untuk melayani masyarakat,” ujar Domingos Dutra, pimpinan partai Kongres Pekerja yang sering bersitegang dengan pimpinan partai.

“Tuntutan demonstran jelas. kami ingin segera ada pengembalian tarif bus dan kereta bawah tanah. Tapi tak cuma itu yang kami inginkan. Kami juga ingin ada perbaikan di tingkat kesehatan dan adanya jaminan dari pemerintah untuk memerangi kriminalitas di dalam kota. Presiden Dilma terlalu lama untuk menanggapi tuntutan kami,” tambah Domingos.

Dia menambahkan, ketika Dilma menginginkan suara untuk kemenangan Pemilu mereka, membangun stadion untuk Piala Dunia dan Olimpiade, mereka baru bertindak cepat. Namun, ketika masyarakat datang untuk memenuhi tuntutan sosial yang menjadi hak mereka, pemerintah justru lamban menanggapi.

“Saya berharap pemerintah menanggapi tuntutan kami dengan cepat karena kami tidak akan berhenti untuk memperluas gerakan sampai tuntutan kami dipenuhi,” tegasnya.

Demonstrasi yang dilakukan selama seminggu ini di Sao Paulo adalah gerakan kelompok kelas menengah yang kokoh. Tiga perempat dari mereka memiliki gelar sarjana. Sementara itu, separuh lebih anggotanya adalah kaum muda dan lebih dari 80 persen dari mereka mengatakan tidak termasuk dalam partai politik. Survey tersebut diungkap kelompok Datafolha, sebuah kelompok survey yang dipercaya di Brazil.

Mereka yang ambil bagian dalam demonstrasi tersebut disupport oleh kalangan menengah dan miskin.

Hasil survey menyebutkan, dibawah kepemimpinan Partai buruhnya, Silva dan Rousseff telah mampu melakukan peningkatan kualitas masyarakat miskin dengan menggunakan program bantuan tunai pemerintah yang telah membantu 40 juta orang miskin menjadi kelas menengah selama satu dekade terakhir.

Namun Riordan Roett, direktur program studi Amerika Latin di John Hopkins University School of internasional studi menyebutkan, disisi lain, pertumbuhan masyarakat yang padat membuat kelas menengah dan kelas menengah ke atas negara itu tidak terwakili dalam partai politik

Dia mengatakan, upah rumah tangga kelas menengah mengalami stagnasi sehingga daya beli mereka menurun. Dengan tidak adanya program pemerintah yang membantu mereka, mereka pun semakin miskin. Rumitnya gambaran pengeluaran dan pemasukan yang dimiliki Brazil membuat adanya kesengsaraan infrastruktur dan membuat segala sesuatunya menjadi mahal.

Kelas menengah merasa partai buruh telah mengabaikan mereka. “Harus ada dialog yang melibatkan beberapa kelompok untuk mengukur seberapa dalam tingkat jengah masyarakan berjalan dan bagaimana pemerintah memberikan prioritas mereka. Rousseff harus memotong seluruh spektrum politik untuk jawaban.” katanya.

Natalia Querino, seorang mahasiswa 22 tahun, dengan ringkas menyebutkan, Brasil menghabiskan $ 13.000.000.000 untuk mempersiapkan Piala Dunia tahun depan sementara sistem pendidikan di negeri ini terus menerus tertinggal dari negara-negara berkembang lainnya.

“Kami menentang pemerintah yang menghabiskan miliaran stadion sementara orang-orang yang menderita di seluruh negeri.Kami ingin pendidikan yang lebih baik, keamanan yang lebih memadai dan sistem kesehatan yang lebih baik.” kata Querino.

Penurunan tarif angkutan umum juga tidak akan membuat demonstrasi terhenti. Seperti hari ini, mereka tetap konsisten melakukan protes terhadap pemerintah. “Apa yang akan kita miliki adalah demonstrasi untuk merayakan kemenangan rakyat yang turun ke jalan,” kata Mayara Vivian, seorang pemimpin gerakan Livre Passe yang dimulai protes pekan lalu.

Pemimpin lain, profesor sejarah Lucas Monteiro mengatakan “pemerintah akhirnya harus tunduk pada kekuatan rakyat. Keputusan ini menunjukkan bahwa warga negara dapat memperoleh kemenangan melalui mobilisasi yang besar dan populis,” kata Monteiro.

Christopher Garman, direktur Amerika Latin dari perusahaan konsultan yang berbasis di AS, Grup Eurasia, mengatakan, pemerintah Brazil telah menjadi korban dari kesuksesan ekonomi sendiri.”Sepertinya Brazil telah menjadi lebih makmur namun situasi politik berubah, rakyat mulai menuntut hal berbeda dari pemerintah mereka untuk meningkatkan pelayanan publik,” jelasnya.

“Solusi jangka panjang yang dituntut pengunjuk rasa adalah perbaikan dalam semua aspek dari sektor publik dan tentunya hal itu akan membutuhkan reformasi signifikan terhadap sistem politik. Itu artinya tidak hanya cukup dengan memiliki banyak uang untuk memperbaiki sebuah sistem,” kata Garman.

“Masalahnya bukan uang, melainkan bagaimana Anda menghabiskannya. Sulit untuk melihat bahwa demonstrasi ini akan mempertahankan dirinya selama berminggu-minggu. Sifat gerakan ini begitu menyebar memungkinkan akan mereda dengan sendirinya. Anda memiliki ketidakpuasan atas semua ini, tetapi tidak ada target yang spesifik. Itu membuat gerakan menjadi lemah,” tegasnya. (FIT/Time)