Demonstrasi Brazil: Satu Tewas, Puluhan Luka-Luka

Rio de Janeiro, Sayangi.com – Sebanyak lebih dari 1 juta rakyat Brazil menyerbu nyaris di seluruh kota di Brazil dalam demonstrasi yang mengutuk pemerintahan yang dianggap korup dan tidak responsif pada rakyatnya, Jumat (21/6) dini hari. Hal itu membuat Dilmah Rousseff mengadakan pertemuan darurat dengan anggota kabinet Jumat pagi.

Rousseff yang memiliki gaya pemerintahan yang angkuh, membuat publik makin geram. Selama hampir dua pekan, aksi digelar, Presiden Brazil itu hanya mengeluarkan satu pernyataan bahwa protes merupakan bagian dari proses demokrasi.

Tidak adanya respon positif dari pemerintah Brazil semakin membuat gerakan meluas. Mereka juga mengajukan beberapa tuntutan baru seperti penolakan membayar pajak yang terlalu tinggi, pelayanan kesehatan yang lebih baik, sekolah yang lebih baik dengan pendidikan yang berkualitas hingga meminta korupsi dihapuskan.

Setidaknya satu demonstran tewas di negara bagian Sao Paulo ketika sebuah mobil menabrak kerumunan demonstran. Hal itu tampaknya terjadi karena sopirnya marah dengan demonstran yang menutup jalan hingga ia tak bisa melewati jalan tersebut.

Sementara itu di Rio de Janeiro, sebanyaka 300.000 demonstran memenuhi kota. Kelompok yang diisi oleh kebanyakan laki-laki ini bentrok dengan polisi anti huru-hara, mereka terpancing amarah setelah polisi mulai menembakkan gas air mata dan semprotan merica.

Setidaknya 40 orang terluka di Rio, termasuk Demonstran seperti Michele Menezes, seorang wanita muda dengan kawat gigi itu mengalami mendarahan dan rambutnya hangus akibat ledakan gas air mata. Dia bilang, dia dan temannya yang lain menghindari aksi anarkhis tetapi justru polisi lah yang memulai kekerasan itu. “Saya dan teman-teman melakukan protes dengan damai. Tapi, Polisi itu menyerang saya. Jelas dia bukan preman melainkan polisi itu sendiri,” sahutnya.

Jeans yang dipakai Menezes terkoyak karena ledakan itu. Ledakan itu juga menghancurkan 2 kancing di celana bagian belakang pahanya. Karena gas air mata itu, matanya mulai memerah menahan perih.

Dia kemudian berlindung di sebuah hotel, bersama dengan sekitar 12 pemuda dan keluarga yang lain. Mereka mengatakan kerap kali dipukul dan disemprot dengan merica oleh polisi. Para pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak akan mundur meski harus merasakan kesakitan.

“Saya melihat hal-hal yang menakutkan. Tapi hal itu tidak akan mengguncang saya. Akan ada demonstrasi lagi yang dilakukan tanggal 22 besok dan aku pasti akan berada disana,” ujar Fernanda Szuster, mahasiswi universitas.

Ketika ditanya apakah orangtuanya tahu dia bergabung dalam aksi protes, Szuster mengatakan: “Mereka tahu dan mereka bangga. Mereka juga protes ketika mereka masih muda. Jadi mereka pikir itu bagus.”

Dia menambahkan, dia tidak akan memberitahu ayahnya tentang apa saja kekerasan yang dilakukan polisi. “Kalau dia tahu, dia tidak akan membiarkan saya meninggalkan rumah lagi,” sahutnya.

Di Brasilia, ibu kota negara, polisi berjuang untuk menjaga ratusan pengunjuk rasa yang menyerang Kementerian Luar Negeri, sementara yang lain, mengatur api kecil di luar. Gedung-gedung pemerintah lainnya yang diserang adalah di sekitar kota sentral esplanade. Polisi juga menggunakan gas air mata dan peluru karet ke arah demonstran yang mencoba berpencar

Bentrokan juga dilaporkan di hutan Amazon dari kota Belem, Porto Alegre di selatan, universitas kota Campinas utara dari Sao Paulo dan kota timur laut Salvador.

“Maksud kami adalah membuat sebuah demonstrasi yang damai. Ini memalukan. beberapa orang menyebabkan masalah yang membuat kritik yang kita sampaikan justru tidak tersampaikan dengan baik. Ada issue besar di balik gerakan ini. Brasil harus berubah, tak hanya pemerintahnya saja melainkan juga sampai dengan tingkatan akar rumput. Kita harus belajar mengutarakan aspirasi kita tanpa kekerasan,” artis Wanderlei Costa, 33, mengatakan di Brasilia.

Kerusuhan itu memukul bangsa karena menjadi tuan rumah dari turnamen sepak bola Piala Konfederasi dengan puluhan ribu pengunjung asing yang hadir. Hal ini juga bertepatan dengan sebulan sebelum Paus Francis dijadwalkan untuk berkunjung ke Brasil. Selain itu, Brazil juga akan menjadi tuan rumah piala dunia 2014 dan Olimpiade 2016. Ini membuat pemerintah Brazil was-was dalam meningkatkan keamanan.

“Saya pikir kami sangat membutuhkan ini, bahwa kita telah menunggu gerakan ini dalam waktu yang sangat lama,” kata Paulo Roberto Rodrigues da Cunha (63), seorang penjual baju di Rio.

Meskipun tadinya gerakan ini hanya memprotes persoalan kenaikan tarif bus dan kereta api bawah tanah, pada akhirnya tuntutan rakyat menjadi lebih maju pada urusan sistemik pemerintah. Banyak orang yang tidak yakin dengan gerakan ini akan berlangsung lama karena mereka tak memiliki platform bersama yang jelas. Namun, pada kenyataannya, mereka mampu mengorganisir diri untuk menjadi kekuatan besar yang mengkritisi sistem buruk yang berlaku di negara mereka.

“Kami membayar banyak uang pajak, untuk listrik, untuk layanan, dan kami ingin tahu di mana uang itu sampai-sampai hingga kini kami tak merasakannya,” kata Italo Santos, seorang mahasiswa berusia 25 tahun yang bergabung dengan unjuk rasa bersama 5.000 demonstran di Salvador Grand Square.

“Ini adalah awal dari perubahan struktural di Brazil. Orang-orang sekarang ingin memastikan uang mereka dihabiskan dengan baik, bahwa itu tidak terbuang percuma melalui korupsi.”kata Aline Campos (29), seorang humas di Brasilia. (FIT/Time)