Dinna Wisnu Ph.D: Iran Masuki Era Baru

Foto: Sayangi.com/Dok. Pribadi

Dunia tampaknya menyambut positif kemenangan Hassan Rohani dalam Pilpres Iran beberapa waktu lalu. Tak kurang Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan harapan agar AS dapat menjalin hubungan dengan Presiden yang baru. Demikian pula Arab Saudi yang memiliki pandangan keagamaan berbeda (Arab Saudi Sunni, Iran Syiah), menyampaikan suka cita atas terpilihnya Hassan Rouhani.
    
Di dalam negeri, kemenangan tersebut menunjukkan masyarakat Iran sangat menginginkan gaya kepemimpinan yang lebih soft dan dianggap lebih bisa diterima oleh negara-negara lain. Hassan Rouhani dapat menyakinkan 18,6 juta orang untuk memilihnya. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda yang berusia 18-35 tahun, yang mendominasi struktur demografi pemilih yang total mencapai 36 juta suara.

Mereka adalah kelas menengah yang tinggal di perkotaan dan peduli dengan masalah pendidikan, politik, tata kota, lingkungan, dan transportasi. Itu sebabnya hampir seluruh kandidat menjanjikan perbaikan dalam lapangan pekerjan dan kebebasan di bidang kebudayaan.
    
Dari sudut pandang lain, kemenangan Hassan Rouhani dapat juga dianggap sebagai “yang terbaik dari yang terburuk”. Ia dan Mohammad Reza Aref adalah kandidat yang dianggap lebih reformis daripada enam kandidat lain yang disahkan sebagai Calon Presiden oleh Guardian Council. Reformis Iran lain yang dikenal dunia, Akbar Hashemi Rafsanjani yang mendaftar di menit-menit terakhir menjelang penutupan pendaftaran, tidak disetujui oleh Guardian Council. Di usia 78 tahun, Rafsanjani dianggap sudah terlalu tua untuk menjadi Presiden.
    
Hassan Rouhani sendiri sebenarnya tidak dikenal sebagai tokoh yang reformis, namun dikenal sebagai orang yang dapat diajak kerjasama ketika menjadi Ketua Tim Negosiator Nuklir Iran. Ia sempat menghentikan sementara pengayaan uranium dan membuka diri pada para penyelidik dari International Atomic Energy Association. Dalam kampanye politiknya, ia juga menunjukkan gaya kampanye dan diplomasi yang lebih tenang.
    
Terlepas dari label yang menempel di dirinya, di dalam debat kampanye Rouhani menganjurkan untuk menyeimbangkan kembali hubungan internasional dan pengelolaan  ekonomi yang lebih baik. Pendapatnya itu menjadi pembeda dengan program kampanye para kandidat dari kalangan konservatif. Ia juga mengambil jarak yang tegas dengan arah dan gaya kebijakan Presiden Ahmadinejad.
    
Pernyataan di atas diulanginya saat konferensi pers setelah kemenangannya diumumkan ke publik. Ia mengatakan keinginannya membangun hubungan dengan dunia dan berjanji akan memberikan keterbukaan dan memperbaiki posisi Iran dalam hubungan internasional, khususnya keterbukaan mengenai nuklir dan membangun kepercayaan dunia. Hassan juga menyinggung isu yang sensitif seperti kebebasan berbicara dan politik. Ia menjanjikan pembebasan tahanan politik dan menjamin dilaksanakannya hak asasi manusia.

Pertanyaannya, sejauh mana idealisme dari Hassan Rouhandi dapat dijalankan?

Sejarah politik di Iran mencatat, sudah ada reformasi yang cukup signifikan dalam politik dalam dan luar negeri saat kepemimpinan Khatami dan Rafsanjani. Di masa Khatami, dengan dukungan masyarakat ia mengurangi pengawasan negara atas media dan mengurangi sensor terhadap buku-buku. Ia juga mendorong kebebasan orang untuk memilih pilihan politiknya masing-masing.
    
Demikian pula di masa kepresidenan Rafsanjani, ia mendorong restrukturisasi ekonomi melalui liberalisasi dan membatasi campur tangan negara dalam urusan ekonomi. Ia mendukung investasi internasional di dalam perekonomi Iran. Dalam hubungan internasional, ia membantu membebaskan tahanan di Lebanon pada tahun 1991 dan 1992. Perempuan juga mendapat perlindungan hukum untuk memiliki kehidupan pribadi.
    
Kebetulan, kedua tokoh reformis Iran itu mendukung majunya Hassan Rouhani. Dukungan itulah yang dianggap sebagai salah satu faktor penentu kemenangan sang Presiden baru. Namun yang jauh lebih penting, dukungan tersebut telah menyatukan kelompok-kelompok reformis di tingkat masyarakat maupun elit politik pimpinan.
    
Seperti kepemimpinan Khatami dan Rafsanjani, Hassan Rouhani harus menghadapi sistem politik, ketika ulama, khususnya Ayatullah Ali Khamenei memegang peran penting dalam kebijakan negara. Sistem politik tersebut adalah keterbatasan struktural dalam pengambilan kebijakan di Iran. Presiden bisa mengusulkan kebijakan, tetapi perlu mendapat persetujuan dari Dewan Ulama (Supreme Leaders).
    
Secara struktural, Presiden punya kelonggaran menentukan kebijakan sosial budaya, kesejahteraan sosial, dan ekonomi. Tapi kebijakan-kebijakan tersebut tidak bisa sepenuhnya tercipta tanpa sinyal positif dari Iran yang diterima oleh negara-negara lain sebagai tanda kerjasama. Tantangannya, sinyal-sinyal terkait politik luar negeri justru ada dalam domain Dewan Ulama.
    
Di sisi lain, kemenangan Hassan Rouhani terjadi di saat dunia, khususnya Timur Tengah, sedang mengalami peningkatan ketegangan. Ketegangan itu menyebabkan pembentukan kubu-kubu yang saling bermusuhan di Timur Tengah. Tepat sebelum Rohani terpilih, Dewan Ulama sudah memutuskan untuk mengirim 4.000 orang personil militer mendukung perjuangan Assad di Suriah, padahal AS memutuskan untuk mengirimkan bantuan militer ke kubu oposisi Assad.

Artinya, secara tidak langsung Rohani sudah dihadapkan pada pertarungan militer atas dasar keberpihakan pada negara-negara di Timur Tengah.
    
Israel juga sudah menyatakan waspada pada kemungkinan masuknya pasukan Assad untuk mengambil alih Dataran Tinggi Golan dan di waktu yang hampir bersamaan Mesir menyatakan putus hubungan diplomatik dengan Suriah. Sementara Arab Saudi  dituntut untuk mendukung posisi AS. Segenap negara di Timur Tengah dan sekitarnya sedang didesak untuk berpihak. Iran akan berada dalam posisi sulit untuk berdiplomasi soal nuklir dengan AS karena garis mereka dikenal pro Suriah-nya Assad.
    
Bagaimana pengaruhnya buat Indonesia? Ini perkembangan yang menarik diamati. Iran punya visi politik luar negeri yang kuat, yakni menjadi negara yang berpengaruh kuat pada politik dan teknologi dunia. Cara-cara yg dipilih oleh pimpinan di Iran akan sangat menentukan reaksi dari negara-negara lain: bisa berupa kerjasama ataupun resistensi dan perselisihan. Indonesia pun punya visi khusus dalam politik luar negeri, salah satunya aktif menciptakan perdamaian. Untuk itu Indonesian mesti siap menghadapi pilihan-pilihan politik Iran supaya perdamaian dunia tetap yang utama. (MSR)

* Penulis Co-founder dan Direktur Program Pascasarjana Bidang Diplomasi Universitas Paramadina