Dieng Culture Festival, Mengintip Pesta Rakyat Tanah Jawi

Foto: Tri Hartiningsih

Wonosobo, Sayangi.com – Dilatarbelakangi Gunung Sindoro dan Sumbing, dialasi kawah-kawah vulkanik, Telaga Warna, hingga persawahan, pesona dataran tinggi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah tak ada habisnya memukau wisatawan. Keunikan adat dan budayanya pun tak luput dari perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Jika Madura selalu diserbu wisatawan karena Karapan Sapinya yang melegenda, Dieng menggoda siapapun yang mendengar dan melihat dengan pesona festival budaya. 

Adalah Dieng Culture festival (DCF), sebuah rangkaian pesta rakyat yang menyuguhkan kreasi seni budaya serta keunikan adat Dieng yang diselenggarakan satu kali setiap tahun. Penyelenggaraannya mengambil lokasi dikawasan wisata Dieng yang eksotik. Sembari menikmati alam yang sejuk dan jauh dari keramaian ibukota, wisatawan akan menerima suguhan menarik dari DCF berupa karnaval seni dan budaya Dieng,  pagelaran seni tari tradisional, pagelaran wayang kulit, hingga festival kembang api. 

Kini, Dieng tak hanya kawah, telaga atau candi-candi cantik, tapi juga hadir dengan cerita adat Dieng yang melegenda dengan sebuatan Anak Bajang atau Anak Gembel. Pernah mendengar legenda unik dari fenomena Anak Bajang atau Anak Gembel tersebut? Jika belum, kamu akan disuguhi ulasan mitos kepercayaan masyarakat Dieng hingga tuntas sekaligus menyelami adat istiadatnya. DCF juga akan menyuguhkan ritual adat berupa prosesi ruwatan Anak Gembel Dieng. 

Anak Gembel atau Anak Bajang Dieng konon merupakan anak-anak terpilih dari keturunan leluhur Dieng. Ditandai dengan tumbuhnya rambut gimbal pada anak tersebut setelah melewati proses demam tinggi dan beberapa keanehan lainnya.

Menurut kepercayaan masyarakat Dieng, rambut gembel ini merupakan balak, oleh sebab itu rambut yang tumbuh gimbal harus dicukur. Uniknya, sebelum disetujui untuk dicukur, biasanya anak-anak ini mengajukan permintaan yang harus dipenuhi orang tuanya sebagai penebusan. Konon jika permintaan tersebut tidak terpenuhi, maka rambut gembelnya akan tumbuh kembali meski sudah dicukur habis.

Tahun 2013 ini, setidaknya ada 7 orang anak gembel yang mengikuti ruwatan pencukuran rambut gembel tersebut di acara DCF. Acara ini menjadi magnet baru untuk pariwisata Jawa Tengah sejak 3 tahun terakhir karen akemurnian budayanya yang unik dan menarik untuk disimak. (FIT)