Mengerikan, 35 % Pelajar di Sampit Terindikasi Narkoba

foto : adliah9b.blogspot.com

Sampit, Sayangi.com – Tercatat 35 persen pelajar di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) setelah diambil sampel urinnya, terindikasi narkoba.

Fakta mengerikan itu diungkap sendiri oleh Bupati Kotim H. Supian Hadi terkait Hari Anti Narkoba Internasional, di Sampit (4/7). “Tahun 2013 telah dilakukan tes urine terhadap siswa SLTA, dan sangat mengejutkan karena sekitar 35 persen terindikasi positif,” ujar Supian Hadi.

Fakta ini, imbuh Bupati, sangat memprihatinkan karena peredaran narkoba meluas di Kotim. Tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tapi juga di lingkungan pegawai negeri hingga kalangan pelajar.

Meningkatnya masalah narkoba di Kotim, kata dia, harus disikapi dengan kerja sama sinergi dan kuat, terutama bagi pencegahan dan penanggulangan di lapangan. Perlu keseriusan semua pihak agar Kotim bisa terbebas dari narkoba.

Penanganan secara tepat diperlukan agar langkah yang dilakukan bisa efektif dan penanganan tidak keliru. Semua pihak harus membedakan mana pengguna narkoba yang merupakan korban dan mana pelaku atau penjahat narkoba yang memang harus dibasmi.

Banyak masyarakat yang menjadi korban narkoba sehingga sulit melepaskan diri, apalagi jika sudah kecanduan. Solusi menghadapi para korban narkoba adalah terapi, pengobatan dan bimbingan sehingga mereka bisa kembali sadar dan tetap punya masa depan.

“Solusi untuk mereka bukan lembaga pemasyarakatan, tapi tempat rehabilitasi. Bukan dihukum, tapi diselamatkan sehingga mereka bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Kalau dimasukkan ke penjara, bisa jadi setelah keluar mereka akan terjerumus lagi,” ujarnya.

Kepada kejahatan narkoba, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas untuk memberikan efek jera. Siapa pun yang terlibat harus ditindak. Jaringannya tidak boleh berkembang di Kotim, Kalteng dan Indonesia, timpal Wakil Bupati Kotim HM Taufiq Mukri.

Lingkungan keluarga memiliki peranan penting dalam pencegahan dan penanggulangan peredaran narkoba. Keluarga adalah lingkungan pertama dan paling dekat sehingga dinilai sangat mengetahui jika ada anggota keluarga mereka yang terjerumus ke dunia narkoba.

“Sulit dimengerti jika hidup bertahun-tahun dalam satu rumah tidak tahu ada keluarga yang menggunakan narkoba. Semua harus saling peduli dan menyayangi karena itu awal penjagaan dan penyelamatan dari narkoba,” tandas Taufiq.

Kader anti narkoba Kotim telah melakukan penyuluhan dan membentuk Kader Anti Narkoba di lingkungan pegawai negeri sipil, pelajar dan mahasiswa. Penegakan hukum juga harus dilakukan untuk membongkar dan memberantas peredaran narkoba.

Pemkab mencanangkan Kotim bebas narkoba pada 2015. Pencanangan program itu ditandai dengan penyerahan Sertifikat Bebas Narkoba dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalteng kepada SMKN 2 Sampit, Sekretariat Daerah Kabupaten Kotim dan Dinas Pendidikan Kotim.

Tekad itu dinilai tidak berlebihan. Berdasarkan data, kasus narkoba yang ditangani Polda Kalteng selama 2012, Kotim menempati urutan tertinggi sehingga harus menjadi perhatian serius semua pihak untuk menanganinya. (Antara)