Mursi Dijegal Militer, Ikhwanul Muslimin Gelar Jumat Penolakan

Foto: Reuters

Kairo, Sayangi.com – Kejatuhan Presiden Mohamed Mursi disambut dengan gembira oleh jutaan orang yang merayakan kemenangannya di jalan-jalan Kairo dan kota-kota lain semalam (4/7), tapi dibalik itu semua, ada dendam membara di antara orang Mesir yang menentang intervensi militer.

Sebuah koalisi Islam yang dipimpin oleh Ikhwanul muslimin meminta orang di seluruh negara itu untuk melakukan gerakan protes “Jumat Penolakan” setelah shalat jumat yang dilakukan untuk mendukung Mursi dan melihat bagaimana militer akan menyikapi hal itu.

Menyadari risiko masyarakat yang terpolarisasi, pemimpin baru, hakim Adli Mansour, melakukan pelantikannya untuk bertahan di cabang zaitun dimana disitu merupakan basis kekuatan Mursi.

“Ikhwanul Muslimin adalah bagian dari rakyat Mesir dan diundang untuk berpartisipasi dalam membangun bangsa dan jika mereka menanggapi undangan, mereka akan disambut,” katanya.

Tepat sebelum ia berbicara, angkatan udara melakukan serangkaian aksi terbang di langit berkabut Kairo, pengingat gamblang tentang peran militer dalam pergolakan terbaru. Aksi melibatkan puluhan pesawat, dan aksi tersebut diulangi pada sore harinya.

Namun seorang pejabat senior mengatakan persaudaraan yang ditawarkan pimpinan baru Mesir tidak akan disambut karena ini merupakan “perampasan”. Sementara itu, politisi lain mengatakan, penggulingan Mursi akan mendorong kelompok lain melakukan resistensi kekerasan.

Penjegalan Mursi setelah dua tahun menduduki kursi kepresidenan, ditandai dengan gejolak yang melanda negara itu setelah satu tahun kepemimpinannya tadinya berlangsung damai sejak kejatuhan Hosni Mubaraka.

Setidaknya 16 orang telah tewas dan ratusan terluka dalam bentrokan di seluruh Mesir sejak penggulingan Mursi. Dalam pertempuran Kamis malam antara pendukungnya dan lawan di kampung halamannya di Zagazig timur laut dari Kairo, 80 orang lainnya terluka.

Menurut kantor berita MENA, demonstran berjuang dengan batu, birdshot dan pisau sementara pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka dan membuat 11 penangkapan. (FIT/Reuters)