Gempa Aceh Sisakan Rasa Trauma Bagi Anak-Anak

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh lalu menyisakan rasa trauma bagi anak-anak. Saat terjadi gempa susulan dengan skala yang lebih kecil, anak-anak pun menangis atau lari penuh ketakutan. Contohnya adalah anak bernama Syifa.

“Kalau ada gempa susulan, Syifa lari ketakutan dan mukanya pucat,” kata salah seorang warga Cekal Kabupaten Bener Meriah Ruhdi Muharram yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (5/7).

Syifa adalah anak pertama Ruhdi yang berusia empat tahun. Saat gempa bumi terjadi ia sedang berada di dalam rumah dan berhasil diselamatkan. Meskipun tidak mengalami luka-luka, namun trauma akibat gempa bumi masih dirasakan.

Hal senada disampaikan Syafrianda Selian, warga Pinangan Paya Tumpi Kabupaten Aceh Tengah. Anak keduanya Icha yang berusia tujuh tahun juga trauma terhadap gempa yang meluluhlantakkan dua kabupaten di dataran tinggi Gayo itu.

“Icha masih menangis kalau terjadi gempa susulan, bahkan kadang dalam tidurnya dia juga terbangun tiba-tiba meskipun tidak terjadi gempa,” ungkap Syafrianda.

Hingga saat ini penanganan darurat gempa bumi di Bener Meriah dan Aceh Tengah masih terus dilakukan dengan fokus utama melakukan upaya pencarian dan evakuasi serta penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dan pelayanan kesehatan.

Data sementara korban gempa tercatat 30 orang meninggal dunia, 12 orang hilang dan 275 orang luka-luka dengan perincian di Bener Meriah 12 meninggal dunia dan 109 luka-luka, sedangkan di Aceh Tengah 18 orang meninggal dunia, 12 orang hilang, dan 166 luka-luka. Di Bener Meriah terdapat 12 orang meninggal dunia. Luka-luka 109 orang dimana 43 orang di RS UD Muyan Kute, 50 orang di Puskesmas Pante Raya, dan 16 orang di Puskesmas Lampahan.

Sebanyak 789 rumah rusak, di mana 537 unit rumah rusak sedang-berat dan 252 unit rumah rusak ringan. Infrastruktur jalan rusak dan tertimbun tanah longsor ada tujuh titik, di mana tujuh titik sudah selesai diperbaiki.

Terdapat delapan fasilitas umum seperti puskesmas, sekolah, masjid, dan kantor desa yang rusak. Ada 15 titik pengungsian. Hingga saat ini jumlah pengungsi masih didata. Sedangkan di Aceh Tengah terdapat 18 orang meninggal dunia. Luka-luka 166 orang, dimana rawat inap 114 orang dan rawat jalan 52 orang.

Kerusakan 3.503 unit rumah rusak dimana 1.368 unit rumah rusak berat, 2.135 unit rumah rusak ringan. 75 unit fasum mengalami kerusakan. Ada 20 titik pengungsian dan pendataan pengungsi juga masih terus dilakukan. (HST/ANT)