Sarumpaet Sindir Gratifikasi Seks Pejabat Dalam Karyanya

Foto:Sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – “Berikan kami titik terang, bukakan kami jalan benderang…” Getir lirih nyanyian dari bocah-bocah bangsa yang dirusak ketimpangan moral itu sukses menjadi prolog dari drama teatrikal berjudul “TITIK TERANG” Sidang Rakyat Dimulai. Disutradarai oleh seorang seniman yang juga aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet, drama teatrikal ini sukses mengusung penonton pada wacana kehidupan manusia disebuah negeri yang memiliki kepelikan persoalan yang sempurna, pun dengan kebuntuan yang sama sempurnanya. Apalagi kalau bukan soal ketidakadilan, ketimpangan sosial, hingga penghianatan pada kemanusiaan.

Ratna Sarumpaet tak hanya menyutradarai pementasan teater ini. Ia sekligus memerankan monolog nenek renta. Puluhan monolog pendek pun terlontar menyuarakan kekecewaan, amarah, tangis, juga harapan.“Revolusi ini akan menuntut kita melihat wajah kita. Sebab kalau tidak aku akan membangunkan rakyat.” begitu gugatan hati sang sutradara dalam monolognya.

“inilah gambaran kehidupan negara ketika nilai moral sudah tidak lagi bernyawa” Satu lagi dari prolog Ratna dalam drama tersebut. Seakan ingin menegaskan kondisi kedaulatan negerinya yang hancur lebur.

Tak hanya itu, alur cerita bergulir dengan kisah-kisah pelik yang terjadi pada manusia lainnya. Fragmentasi Arma dan Arman, sebuah kisah cinta antara seorang aktivis muda dengan seorang putri koruptor. Dilanjutkan dengan testimoni dari seorang jaksa Eddy, aktivis sekaligus pemabuk yang lelah dengan kehidupan keluarganya juga kisah-kisah hitam politik. Hingga lenggak lenggok Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai pelacur, seorang pelacur yang punya mata berlapis.

“Kalian mengerti apa tentang pelacur seperti kami?” “hee, kalau ada diantara kalian yang menganggap aku tak layak biacara tentang keadilan,” “Ya, aku, aku memang pelacur. Pelacur khusus. Aku menjadi pelacur karena pilihanku sendiri. Aku mangkal di hotel-hotel berbintang, dan melayani para pejabat-pejabat. Aku dibayar segepok, segepok uang, dan dimasukan dalam amplop, resmi dari negara.” Begitu teriakan-teriakan histerisnya seakan menyindir para pejabat dan gratifikasi seks yang erat hubungannya dengan korupsi gelap yang kini menjadi marak ditemukan KPK sebagai bukti aliran dana korupsi yang melibatkan gadis-gadis muda berharga puluhan juta rupiah.

Menurut Ratna, drama ini adalah penggambaran terhadap kondisi yang sedang terjadi, fakta-fakta yang tidak tersentuh, kerusakan yang terjadi, hingga kebohongan yang luar biasa di Negeri ini. Sebagai aktivis dan seniman, drama-drama monolog yang dibuat dengan kata-kata lugas ini adalah jalan dan caranya menyuarakan gugatan serta perjuangan dengan hati.

“Saya berharap penonton melihat bahwa masih ada titik terang yang harus dikejar. Drama ini juga sebagai semangat kita untuk terus berjuang dalam memperbaiki kehidupan bangsa Indonesi,” sahutnya sat ditemui Sayangi.com usai pementasan semalam (4/7).

Karya ke-sebelas Ratna Sarumpaet ini adalah kolaborasi naskah bersama Ahmad Yulden Erwin. Digarap bersama Satumerahpanggung, dibintangi beberapa artis dan aktor terkenal seperti Atiqah Hasiholan bersama kekasihnya, Rio Dewanto. Ada, Maryam Supraba, Teuku Rifnu Wikana, Jean Marais, Marzuki Hasan , dan Ratna Sarumpaet sendiri,. “Titik Terang, Sidang Rakyat Dimulai”. Ini adalah pementasan kedua setelah premiere 3 Juli lalu di Graha Bhakti, Taman Ismail Marzuki. Pementasan ini masih akan dilangsungkan hingga 6 Juli mendatang. (FIT)