Militer Coba Rangkul Ikhwanul Muslimin

Kairo, Sayangi.com – Menanggapi gerakan protes “Jumat penolakan” oleh pasukan militan ikhwanul muslimin, salah satu sumber militer mengatakan, “Kami akan terus mengamankan tempat protes dengan pasukan, dan jet jika perlu, untuk memastikan demonstran pro-dan anti-Mursi tidak saling berhadapan hingga menimbulkan konflik yang sama sekali tidak diinginkan.

Lawan politik Mursi bersikeras tidak ada kudeta. Sebaliknya, tentara mengindahkan bahwa kudeta yang mereka lakukan adalah kehendak rakyat untuk memaksa Presiden keluar dari tampuk kekuasaan. Jutaan rakyat Mesir pada hari Minggu melakukan demonstrasi memprotes ekonomi yang runtuh dan kebuntuan politik, di mana Mursi telah gagal untuk membangun konsensus yang luas setelah dua tahun menjabat menjadi presiden.

Usai kemundurannya, Mursi digantikan oleh ketua mahkamah konstitusi, Adli Mansour. Dan status tahanan rumah langsung diberikan kepadanya. Selain Mursi, pemimpin pertama yang dipilih secara bebas di negara itu, beberapa tokoh senior Ikhwanul Muslimin lainnya juga ditahan, kata sumber keamanan. Jaksa sedang menyelidiki berbagai tuduhan, termasuk hasutan untuk melakukan kekerasan dan dalam kasus Mursi sendiri, melakukan penghinaan di pengadilan.

Dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya, komando militer Mesir mengatakan, “kebijaksanaan, nasionalisme sejati dan nilai-nilai kemanusiaan yang konstruktif adalah bahwa semua agama telah menyerukan dan mengharuskan kita sekarang untuk menghindari tindakan luar biasa atau sewenang-wenang terhadap setiap faksi atau arus politik.”

Itu tampaknya menjadi respon terhadap kekhawatiran internasional bahwa setelah penggulingan Mursi, ada pola penangkapan dan intimidasi terhadap Ikhwanul muslimin oleh kelompok militer.

Caretaker Menteri Luar Negeri Mesir, Mohamed Kamel Amr mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry telah menyatakan keprihatinan selama panggilan telepon kementrian hak asasi manusia pada Kamis (4/7).

“Dia khawatir tentang status hak asasi manusia,” kata Amr. “Aku maklum akan ketakutannya. Aku meyakinkannya tidak ada timbal balik, tidak ada balas dendam, bahwa tak ada seorang pun yang akan diperlakukan di luar hukum.”

Amr, seorang diplomat yang mengundurkan diri dari pemerintahan Mursi setelah aksi massa yang begitu besar hari Minggu. Ia berusaha untuk mengumpulkan duta internasional dan memberikan pesan pada mereka bahwa di Mesir tidak terjadi Kudeta Militer. Pelengseran yang dilakukan tentara semata-mata hanya mengindahkan kehendak rakyat Mesir yang menginginkan Mursi turun.

Sementara itu, Washington telah mendesak para pemimpin Mesir untuk menyelesaikan perbedaan mereka dengan cepat sehingga kerusuhan yang telah melemahkan pendapatan wisata dan investasi serta ekonomi dapat segera pulih.

Ikhwan meninggalkan dekade kekerasan lalu. Bahkan di antara sekutu-sekutunya yang terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan Mubarak pada 1990-an dan seterusnya. Namun Mesir tidak pernah memiliki masalah dengan militansi, tak terkecuali di semenanjung Sinai yang sebagian besar kosong, di mana Islam radikal yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda telah menjadi lebih aktif sejak Mubarak jatuh.

Amr Moussa, mantan menteri luar negeri, kepala Liga Arab dan pemimpin partai liberal sekarang, kepada Reuters mengatakan, ia mengharapkan ada transisi penuh ke lembaga terpilih untuk mengambil sikap melakukan pemilu demokratis paling lambat dalam waktu stau tahun terakhir. Jika perlu, pemilu bisa dilangsungkan lebih cepat dalam waktu 6 bulan. “Ini bisa dilakukan,” katanya.

Menurut pengamat Mesir, menyoroti ketegangan antara ikhwanul muslimin dan pasuka keamanan militer mesir akan terlihat sulit. Apalagi melihat adanya front liberal, partai sekuler dan islam bersatu dengan keinginan mereka dalam menggulingkan Morsi.(FIT/Reuters)