Caleg Aktivis Galang Dana dari Masyarakat

foto : mardikanto

Jakarta, Sayangi.com – Selama ini Calon Legislatif (Caleg) mendanai sendiri pencalonannya, tapi tidak bagi Masinton Pasaribu, caleg No 3 Dapil Jakarta II dari PDI Perjuangan.

Lewat  Posko Gotong Royong untuk Caleg Bersih yang dideklarasikan oleh puluhan aktifis, di Jl. Cikini I No B, Jakarta Pusat , Jumat (5/7), Mashinton bersama Caleg-Caleg aktifis lainnya berusaha menghimpun donasi dari masyarakat. “Kami hanya ingin berutang budi kepada rakyat, bukan kepada yang lain,” jelas Mashinton.

“Gerakan ini sebagai bentuk perlawanan kami terhadap politik yang cenderung transaksional,” timpal Ketua Panitia Hendrik Dickson Sirait. Tapi Hendrik yang akrab dipanggil Iblis ini tidak bisa memastikan, gerakannya akan berhasil atau tidak. “Justru ini yang sedang kami uji,” tandas Iblis.

Acara Deklarasi  dihadiri ratusan aktifis, antara lain Ketua Fitra Ucok Sky Khadafi, Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, Ketua LBH Jakarta Mayong, aktifis Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Paris, dan masih banyak lagi.

Dalam sambutannya, Ucok Sky Khadafi, memaparkan popularitas dan sumber dana itu sumber masalah bagi caleg aktifis. Namun kedua hal itu bukan segala-galanya. “Buktinya ada yang habis puluhan miliar, tapi tidak terpilih. Begitu juga artis, mungkin terlalu pede dengan popularitasnya, jadinya malah banyak yang tidak terpilih,” beber Ucok.

Oleh karenanya Ucok mengapresiasi hadirnya Posko Gotong Royong Caleg Bersih yang menggalang pendanaan dari masyarakat. Dengan begitu sekaligus menguji kepercayaan rakyat. “Kalau rakyat percaya, Insya Allah, terkumpul. Sebab duit itu kepercayaan,” papar Ucok.

Ucok tidak memungkiri, Pemilu memang biaya mahal. “Untuk Saksi saja dalam hitung-hitungan saya habis 660 miliar,” ucap Ucok. Tidak mengherankan bila selama ini beredar uang siluman yang menghasilkan pula program-program siluman.

Ucok juga tidak menampik isu, untuk jadi anggota DPR-RI banyak diantara Caleg yang menghabiskan biaya di atas Rp 2 miliar. “Tapi duitnya bukan lari ke Rakyat, melainkan lari ke penyelenggara Pemilu, makanya penyelenggara Pemilu kaya-kaya” tuding Ucok.

Mudah-mudahan eksperimen menggalang dana masyarakat ini, harap Ucok, diikuti oleh caleg-caleg  yang lain. Sehingga pertanggung-jawaban Caleg ke rakyat menjadi jelas. “Sebab dia telah dipercaya rakyat, maka harus mengembalikan kepercayaannya dalam bentuk anggaran yang lebih pro rakyat.”

Senada dengan Ucok, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Donald Pariz menyambut baik upaya Posko Gotongroyong untuk Caleg Bersih,” semakin banyak Caleg bersih, semakin baik pula kualitas anggota dewan,” beber Donald.

Kalau sekedar mengkritik, imbuh Donald, setiap hari DPR mengkritik pemerintah, mengkritik LSM, bahkan mengkritik SBY. “Tapi saat gantian dikritik, malah lapor polisi,” sindir Donald.

Sedangkan Direktur LIMA Ray Rangkuti menjelaskan, Pemilu bukan sekedar persoalan aman dan lancar. “Kalau cuma aman dan lancar, 2004 dan 2009 sudah aman dan lancar. Tapi bagaimana di Pemilu 2014 nanti ada visi yang dimenangkan,” ucap Ray.

Oleh karenanya, Ray Rangkuti mendukung tampilnya teman-teman yang sudah dia kenal track-recordnya, tampil ke depan mendorong perubahan di pusat-pusat kekuasaan, termasuk menjadi caleg.

Setidaknya, timpal Ucok, anggaran yang dibuat benar-benar untuk kepentingan rakyat. Bukan kepentingan pengusaha yang dalam catatan ICW, 44 persen menguasai DPR. (Mardikanto)