Cadangan Devisa Juni Merosot Demi Stabilkan Rupiah

Foto: Sayangi.com/Nurfahmi

Jakarta, Sayangi.com – Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo mengaku senang lantaran dalam tiga hari terakhir mulai masuk investor asing non-residence yang membeli Surat Berharga Negara (SBN).

Hal itu menunjukkan, Indonesia sudah melalui tantangan-tantangan yang mengadang dan siap untuk kembali menumbuhkan kepercayaan semua pihak, dengan kinerja struktural dan perekonomian yang lebih baik.

“Cadangan devisa yang ada saat ini juga lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa akhir Juni 2013 setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah atau di atas kondisi yang terjadi pada 2005 dan 2008, yaitu sekitar 4,3 bulan impor,” papar Agus kepada wartawan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

Menurut data Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2013 mengalami penurunan dari posisi akhir Mei 2013 sebesar 105,1 miliar dolar AS menjadi 98,1 miliar dolar AS. Penurunan tersebut, kata Agus, antara lain dipengaruhi oleh pengeluaran dalam rangka kebijakan nilai tukar, selisih kurs neraca, dan revaluasi aset.

“Kami melihat yang kemarin terjadi ‘capital outflow’ sebanyak 4,1 miliar dolar AS, kebutuhan dari korporasi di Indonesia, dan kebutuhan kami untuk melakukan stabilisasi itu membuat terjadinya penurunan cadangan visa,” ujar Agus. Dia menambahkan, penurunan cadangan devisa ini wajar dan berfungsi sebagai asuransi yang apabila terjadi aliran dana keluar (capital outflow) kembali dapat dipergunakan.

“Cadangan devisa itu selalu terkait dengan capital inflow (aliran modal asing yang masuk dalam negeri-Red) dan capital outflow. Kalau sedang banyak capital inflow, sebagian dari capital inflow tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan cadangan devisa, tetapi kalau sedang ada capital outflow dengan sendirinya juga terjadi pengurangan cadangan devisa,” tutur Agus. Masih kata Agus, devisa 98,1 miliar dolar AS itu cukup untuk memenuhi kurang lebih 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

“Kalau kita tidak masukkan utang luar negeri, jumlah itu sama dengan 5,5 bulan impor dan hal itu menunjukkan bahwa secara persentase, perkalian jumlah impor itu suatu angka yang baik dan kami yakini cukup untuk menjaga nilai tukar ke depan,” tegas mantan Menteri Keuangan itu. (MSR)