Penurunan Cadangan Devisa Dinilai Masih Wajar

Foto: ANT

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat ekonomi Ryan Kiryanto menilai penurunan cadangan devisa menjadi 98,1 miliar dolar AS pada akhir Juni lalu sebagai hal yang wajar. Hal itu terjadi karena gejolak perekonomian dunia beberapa waktu lalu.

BI mencatat cadangan devisa pada akhir Juni turun menjadi 98,1 miliar dolar dibanding posisi akhir Mei sebesar 105,1 miliar dolar AS.

“Posisi cadangan devisa yang 98 miliar dolar AS masih aman, karena bisa memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,4 bulan ke depan,” katanya.

Ryan mengatakan, kondisi itu masih wajar karena penurunan terjadi akibat pembayaran bunga utang luar negeri pemerintah. Selain itu karena pemenuhan kewajiban BUMN untuk pembayaran impor bahan baku dan intervensi BI untuk meredam atau menahan kejatuhan nilai tukar rupiah.

“Di sisi lain, kinerja ekspor belum bisa membantu menahan kebutuhan dolar AS untuk keperluan impor barang modal dan bahan baku, terbukti neraca perdagangan masih defisit,” katanya.

Cadangan devisa yang berada di bawah 100 miliar dolar AS, menurut Ryan, juga tidak perlu dikhawatirkan, karena yang penting fundamental ekonomi tetap terjaga dengan baik. Tekanan ekonomi ke depan kata dia, makin berkurang sejalan dengan recovery ekonomi AS dan Jepang serta penghentian secara bertahap stimulus fiskal di AS masih menggantung.

Dikatakan Ryan, yang penting BI bisa menjaga kebutuhan dolar AS di sepanjang waktu agar depresiasi rupiah tidak makin liar, dan kepercayaan pasar tetap dapat dijaga.

Untuk mendongkrak cadangan devisa, perlu menggenjot ekspor habis-habisan, mengurangi impor barang konsumsi, dan mereschedule pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta. Cadangan devisa juga menciptakan iklim investasi yang baik agar FDI masuk dan menyetop kredit valas untuk sementara waktu. (MI/Ant)