Ingin Meredam Situasi, El Baradei Ditarik Jadi PM Mesir

Foto: wikimedia

Kairo, Sayangi.com – Pemimpin oposisi Mohamed El Baradei bukan hanya menjadi nama perdana menteri Mesir, tetapi merupakan “pilihan yang logis,” kata juru bicara presiden interim Sabtu (6/7), bertentangan dengan pernyataan pada hari sebelumnya oleh para pejabat partai politik ElBaradei.

Langkah ini datang karena kemarahan yang tumbuh antara pendukung Presiden yang baru saja dilengserkan Rabu (3/7) Mohammed Mursi yang merupakan seorang yang muncul dari barisan ikhwanul muslimin pada Pemilu demokratis setelah kejatuhan Hosni Mubarak. Bentrokan yang terjadi Jumat, telah mengecam langkah militer untuk mendorong Mursi keluar dari kekuasaan, dan menimbulkan kekhawatiran akan adanya kekerasan yang terus melebar.

El Baradei bertemu dengan Presiden interim Adly Mansour selama dua jam Sabtu sore. mereka melakukan pendiskusian dan saling berkonsultasi tentang situasi terkini. “Besok kami berharap untuk nama perdana menteri dan para menteri yang lain,” kata penasehat presiden Ahmed al-Muslimani pada run-situation TV.
Jika ElBaradei dipilih, itu akan menandakan terjadinya pergeseran sekuler hanya beberapa hari setelah kudeta militer menggulingkan Presiden pertama yang dipilih secara demokratis di Mesir.

Kemungkinan penunjukan ElBaradei, kepala de facto gerakan oposisi pada hari-hari menjelang pemecatan Mursi, Hari Rabu silam telah dibahas sebagai kemungkinan yang diambil kalangan pendukung dalam beberapa hari terakhir.

ElBaradei, mantan kepala badan pengawas nuklir PBB, mengikuti pemilu pertama negara itu pada 2012 namun mengundurkan diri setelah mengkritik pemerintah sementara karena gagal mewujudkan “sistem demokrasi yang nyata.”

Bagaimana pendukung Mursy, yang didukung aturan presiden yang dipaksa mundur, bereaksi terhadap pemerintah baru, akan menjadi kunci pasca-kudeta Mesir, di mana militer membekukan konstitusi negara dan membubarkan parlemen.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN pada hari Kamis, ElBaradei menyebut pemecatan Mursy adalah sebuah titik balik dari tahun 2011 dimana terjadi revolusi rakyat yang menggulingkan Hosni Mubarak.

“Entah kami harus berisiko melakukan perang saudara atau justru mengambil langkah-langkah ekstra konstitusional semata-mata hanya untuk memastikan bahwa kami sedang menjaga negara bersama-sama,” katanya, menjelaskan teka-teki militer. “Ini adalah penarikan kembali, dan ada yang baru yang akan menggantikan.” (FIT/cnn)