Reuni Aktivis di Pemakaman Amir Husin Daulay

Foto : Emil

Jakarta, Sayangi.com – Ribuan aktivis gerakan dari beragam generasi, tumpah ruah menjejali Rumah Bambu, kediaman (Alm) Amir Husin Daulay (AHD). Tampak Hariman Siregar, berkaos hijau tua, sibuk menyiapkan prosesi pemakaman. Tampak pula advokat senior Adnan Buyung Nasution berkemeja hitam, bercengkerama dengan sejumlah aktivis di pelataran rumah bambu yang Sabtu (6/7).

Bakda Asyar itu, jenasah memang disemayamkan di masjid dekat rumahnya. Sejumlah aktivis, lewat hand-phone, tampak sibuk menjelaskan lokasi rumah duka ke teman-temannya yang terjebak macet antara Cilingsi – Jonggol. Sementara ambulan mulai bergerak ke pemakaman. “Masih banyak temen-temen yang terjebak macet,” ucap Isti Nugroho, aktivis 1980-an yang bersama Bonar Tigor Naipospos dan Bambang Subono dipenjara 8 tahun dalam kasus penyebaran buku-buku Pramoedya Ananta-Toer.

Maklum, hingga akhir hayatnya, cucu tokoh Pers Nasional Parada Harahap itu masih berinteraksi dengan sejumlah aktifis, baik yang generasi kakek-nenek maupun yang masih unyu-unyu, secara langsung maupun lewat media sosial facebook dan Blackberry Messenger (BBM) atas nama aslinya Amir Husin Daulay.

Tidak mengherankan pula, acara pemakaman bakda Asyar itu menjadi semacam reuni aktifis lintas generasi lintas kota. Tampak pula diantaranya saling berpelukan. Suasana haru bercampur baur, antara rasa kehilangan atas kepergian almarhum dan haru karena puluhan tahun tidak pernah bertemu. Dengan kata lain, kepergian almarhum telah menyambung tali silaturahim diantara sejumlah aktivis yang selama ini tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Upload terakhir AHD tercatat di facebooknya tanggal 27 Juni 2013 pukul 9.14 am. Di status Catatan Akhir Juni 2013 itu yang diberinya judul Ruarrr Biasaaaa… Like Father, Like Father, AHD menulis tentang anak (Alm) Nuku Soleman, Nurul Fatimah, saat diajak pamannya Ismet Zulkarnaen jalan-jalan ke toko sepatu.

“Pilih yang mana paling kamu suka. Ambil beberapa pasang, terserah.” Nurul menjawab, “Gak usah, Om. Nurul sudah punya. Ini lagi dipake.” Begitu tulis AHD menggambarkan adegan di Toko Sepatu antara Ismet dan ponakannya. Selanjutnya AHD beralih menulis kemiripan sikapnya dengan almarhum Nuku yang pernah dipenjara Soeharto dalam kasus penyebaran striker Soeharto Dalang Segala Bencana (SDSB).

AHD pun terkesan dengan si Nurul. Mengingatkannya ke sosok bapaknya. AHD pun lalu menulis, “Bebas dari LP Cipinang, 1998, Nuku dielu-elukan banyak orang. Kawan-kawan bergantian menjamu dan mentraktirnya makan. Seolah berlomba. Tapi, kawan-kawan sering kecewa. Karena ternyata Nuku tetap menjalankan kebiasaannya selama di penjara, hanya makan 1 kali setiap hari.

Jalan samsara itulah yang dilakukan AHD menjelang akhir hayatnya. Aktivitasnya pun beragam. Bukan sebatas kegiatan media sosial, melainkan juga membuat Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) bagi bocah-bocah yang tinggal di sekitar rumahnya, termasuk juga pementasan budaya. “Terakhir kali dia menggagas Baca Puisi di Taman Ismail Marzuki, tanggal 12 Juli nanti,” terang Isti Nugroho.

Sebelumnya AHD juga memprakarsai pementasan Bengkel Teater “Mastodon dan Burung Kondor” setelah ditinggalkan WS Rendra yang wafat pada 6 Agustus 2009. Kesaksian itu pula diungkap oleh Rusdy Setiawan Putra yang juga menulis di beranda AHD. “Ini kerja bareng Bang Amir Husin Daulay dengan saya dan teman-teman Bengkel Teater Rendra (Ken Zuraida Project) pada Agustus 2011 lalu. Selamat Jalan Bang AHD. Beristirahatlah dengan damai dan semoga Allah SWT memberikan tempat yang sebaik-baiknya … Amin”

Hidupnya yang sungguh berwarna, ide-idenya yang jauh melintas ruang dan waktu, dan kadang jahil, menyebar dari cerita sejumlah temannya yang takziah hingga pukul 12.00 malam. Badannya yang bongsor, jauh di atas ukuran rata-rata orang Indonesia, bukan menjadi penghalang bagi lelaki kelahiran Medan, 9 Desember 1960 menggeluti dunia aktifis sejak awal 1980-an.

“Di UNAS dia angkatan 1983, tapi sebelumnya pernah kuliah di Akademi Statistik Jakarta dan sempat setahun kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta,” tutur Parulian Manullang, teman seangkatannya di UNAS tentang sosok almarhum yang memprakarsai gerakan pers mahasiswa, bukan saja di UNAS, melainkan juga perguruan tinggi dari berbagai kota melalui kegiatan Pekan Jurnalistik Mahasiswa.

Sepanjang hidupnya, AHD memang berjuang. Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Indonesia yang lebih baik. Saat Soeharto kuat, selain memprakarsai Pers Mahasiswa, dia dan sejumlah temannya dari berbagai kampus mendirikan Yayasan Pijar, lembaga yang berani secara terbuka melawan Soeharto. Karena itu pula tidak sedikit aktivis Pijar yang masuk penjara, bahkan beberapa diantaranya keluar masuk penjara.

Dalam hidup, AHD dikenal teguh memegang prinsip, “Sebab kuat itu bukan saat kita mendapatkan, namun saat kita bisa memberi. Kuat bukan saat kita bisa memenangkan segala kompetisi dalam hidup, tapi saat kita jatuh lalu bangkit lagi untuk bertahan dan melanjutkan perjuangan.”

Karena itu pula, rasa solidaritas AHD kepada teman-temannya, baik yang tua, beranjak tua, unyu-unyu, bahkan yang sudah meninggal dunia sekalipun, sangat luar biasa. Menjelang akhir hidupnya, setelah memprakarsai silaturahim di lingkungan aktivis di rumah bambunya, Jumat (28/6) di tengah tubuhnya yang letih dia paksakan diri nyekar ke pusara almarhum Yosep Rizal di Sukabumi.

Sepulang dari Sukabumi tubuhnya drop. Hari Rabu (3/7) masuk Rumah Sakit Permata Cibubur dan Sabtu pagi koma. Beragam kompilasi penyakit memang sejak dua tahun terakhir menyerang tubuhnya. Akhirnya, Sabtu (6/7) pukul 10.25 WIB, AHD dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat jalan Bang Amir. .. (Marlin Dinamikanto)