Warga Libia Tuntut Pembubaran Milisi

sumber : www.gpeano.org

Tripoli, Sayangi.com – Ratusan demonstran Libya turun ke jalan, Minggu (7/7) menuntut pembubaran milisi yang berkembang di Tripoli sejak akhir perang 2011.

Massa yang mencakup sekitar 300 orang berkumpul di Algeria Square di Tripoli pusat dengan mengibarkan bendera-bendera putih dan spanduk yang bertuliskan “Tidak ada brigade, tidak ada milisi, kami ingin militer yang setia pada negara” dan “Tanpa militer dan polisi, Libya dilanda kesulitan”.

“Sebagian besar masalah di kota itu disebabkan oleh milisi-milisi yang berperang memperebutkan kekuasaan,” kata Nasreldeen Abdullah, salah seorang penyelenggara protes. “Terjadi perampokan, kekerasan dan warga sipil dibunuh tanpa alasan. Kami bosan dengan hal ini.” Pemerintah Libya menyatakan, mereka masih berusaha mengambil alih lagi kendali atas kementerian dalam negeri, yang dikepung oleh kelompok orang bersejata yang memasuki bangunan itu pada Selasa dan memerintahkan pegawai agar pergi.

Sebuah komite kementerian melakukan perundingan untuk menguasai lagi gedung kementerian dalam negeri, kata Menteri Kelistrikan Ali Mohammed Muhairiq kepada wartawan. “Kami melakukan komunikasi terus… untuk mengakhiri pengepungan dan berharap ini akan terjadi dalam dua atau tiga hari ini.” Pemerintah menyatakan, mereka masih menyusun rencana untuk membubarkan milisi namun belum memberikan rincian mengenai hal itu.

Perdana Menteri Ali Zeidan mengatakan, pemerintah akan menaikkan gaji untuk membujuk mantan gerilyawan agar masuk ke angkatan bersenjata. Sekitar 19.500 orang — tentara dan polisi — akan dikirim untuk menjalani pelatihan di AS, Prancis, Inggris dan Italia, kata Zeidan.

Pemerintah baru Libya hingga kini masih berusaha mengatasi banyaknya individu bersenjata dan milisi yang memperoleh kekuatan selama konflik bersenjata yang menggulingkan Muamar Gaddafi. Gaddafi (68), pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa dan bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak, diumumkan tewas oleh kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) pada 20 Oktober 2011.

NTC, yang memelopori pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah Gaddafi, mendeklarasikan “pembebasan” Libya tiga hari setelah penangkapan dan pembunuhan orang kuat itu pada 20 Oktober. Selama konflik, dewan itu mengatur permasalahan kawasan timur Libya yang dikuasai pemberontak dan melobi keras untuk pengakuan diplomatik dan perolehan dana untuk mempertahankan perjuangan berbulan-bulan dengan tujuan mendongkel kekuasaan Gaddafi.

Benghazi, tempat lahirnya pemberontakan anti-pemerintah yang menggulingkan rejim Muamar Gaddafi, dilanda pemboman dan serangan-serangan terhadap aparat keamanan dan juga konvoi serta organisasi internasional dan beberapa misi Barat. Pihak berwenang menyalahkan kelompok garis keras atas kekerasan itu, termasuk serangan mematikan pada September terhadap Konsulat AS di Benghazi yang menewaskan Duta Besar Chris Stevens dan tiga warga lain Amerika. (Ant)