Drifting, Ketika Balap Mobil Bukan Sekadar Adu Cepat

Foto: Zee Shie

Jakarta, Sayangi.com – Aroma kampas rem begitu menusuk hidung di lintasan aspal sore itu, namun mata saya terpesona melihat atraksi-atraksi keren sekaligus mendebarkan dari drifter-drifter muda bersama mobil modifikasinya. Sungguh tontonan dan ide hobi baru yang menarik.

Tokyo Drift, apa yang terlintas dibenak Anda tentang itu? Balap mobil dengan mobil modifikasi supercanggih dan keren tentunya. Tak dapat disangkal, film “Fast and Furious” yang dibintangi aktor seksi sekelas Vin Diesel telah menggugah hobi-hobi baru terkait balap mobil atau olahraga otomotif di Indonesia. Sebut saja Drifting, sebuah teknik menyetir dimana sang pengemudi akan berusaha memposisikan mobilnya pada tingkat kemiringan tertentu sambil meluncur selama mungkin.

Untuk menunjukan teknik tingkat tinggi tersebut, biasanya para pedrifter (pembalap drift) hanya menggunakan gigi 2 dan hand brake atau rem tangan. Yang pasti, butuh keahlian khusus dan disiplin berlatih. Sejak cabang olahraga ini mulai populer pada tahun 2006 silam di Indonesia, mulailah bermunculan sekolah-sekolah drift yang mulai banyak diminati, khususnya oleh kawula muda. Salah satunya Speedy School of Drift yang sabtu kemarin digelar di kawasan Senayan Jakarta (6/7).

Acara ini digagas oleh Pedrifter senior Rifat Sungkar. Berbagai pelatihan, baik secara teori dan praktek kepada para pemula yang berminat besar untuk menjadi pedrifter tangguh dipaparkan langsung olehnya. Kali ini teknik-teknik yang diajarkan adalah mengenai safety dan professional meningkatkan keselamatan. Bahkan peserta diberikan kebebasan membuat lintasan sendiri. Bukan hanya teori dan praktek, dalam acara ini juga diberikan rapor dan penghargaan.

Sejarah drifting konon mulai lahir di Jepang, sekitar pertengahan tahun 1960-an silam. Adalah Rolling Zoku dari kalangan motorsport underground yang disebut-sebut menjadi pelopor lahirnya olahraga otomotif yang satu ini. Saat itu, di jalan pegunungan (touge) yang berkelok-kelok dan beraspal licin di wilayah Rokkosan, Hakone, Irohazaka dan Nagano mereka beraksi mempraktekkan teknik opposite-lock dari reli ini.

Pada tahun 1970-an sang Legenda F1 Jepang; Kunimitsu Takahashi juga mulai terinspirasi oleh teknik-teknik drifting. Hingga puncaknya pada tahun 2001, Keiichi ‘Dorikin’ (Raja Drifting) Tsuchiya (pembalap turing dan juga ‘Bapak Drifting Profesional’) bersama, Daijiro Inada (pendiri Option Magazine dan Tokyo Auto Salon) membuat seri kompetisi drifting profesional, D1 Grand Prix (D1 GP). Meski belum mendapat pengakuan dari FIA, namun cabang olahraga otomotif yang satu ini sudah masuk dalam daftar olahraga profesional yang berjalan di bawah bendera D1 Grand Prix. (MSR)