Tradisi “Meugang” di Aceh Jelang Ramadhan

Foto: Antara

Aceh, Sayangi.com – Berdasarkan keputusan Menteri Agama, bulan suci Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu atau tanggal 10 Juli 2013.

Seperti biasanya, memasuki bulan penuh rahmad itu, umat Islam di Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh, menyambutnya dengan penuh suka cita yang sudah menjadi tradisi, seperti “meugang” (hari motong).

Demikian halnya dengan masyarakat di Desa Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menyambut bulan penuh berkah itu dengan berbagai kegiatan yang tujuannya meningkatkan silaturrahmi di antara mereka.

Anwar, salah seorang warga Desa Serempah saat berbincang-bincang di desanya, Senin menyatakan, warga di sini memiliki tradisi menyambut bulan puasa dengan kegiatan “Besi julen lepat” yaitu kegiatan saling bertukar makanan, baik di masjid atau meunasah maupun dari rumah ke rumah.

Ia menjelaskan, pada hari “meugang” setiap rumah “wajib” memotong ayam minimal satu ekor, kemudian setelah dimasak masing-masing rumah tangga membawa hidangan ke masjid atau meunasah pada acara kenduri pada malam hari yang biasanya dimulai sesudah shalat Magrib.

Sebelum makan bersama, pada saat sudah duduk bersama, hidangan yang dibawa tadi saling ditukar dengan teman di sebelahnya, katanya.

“Ini sebagai bentuk kebersamaan sesama warga, sehingga mereka bisa merasakan hidangan dari tetangga lainnya,” ujarnya.

Setelah makan, kemudian dilaksanakan shalat Isa dan dilanjutkan shalat Tarawih, ujarnya.

Kemudian pada siang hari, ibu-ibu saling mengantar makanan ke tetangga. Dan sebaliknya tetangga tersebut memberi makanan, sehingga saat kembali wadahnya tetap berisi makanan.

“Tradisi tersebut terus berjalan turun temurun, sehingga setiap rumah tangga wajib minimal memotong ayam satu ekor. Jadi, kondisi apapun ekonomi warga itu, harus ada satu ekor, kalau tidak sepertinya akan malu,” katanya.

Namun, tradisi “Besi julen lepat” pada tahun ini bakal tidak ada, karena umat Islam di Desa Serempah sudah tidak ada lagi, setelah daerah itu porak poranda akibat gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter, Selasa (2/7).

Gempa yang mengguncang daerah itu pada pukul 14.37 WIB itu tidak saja menghancurkan rumah penduduk, tapi juga membuat desa tersebut terbelah menjadi dua, dan sebagian longsor ke jurang se dalam 100 meter.

Akibatnya, 75 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa mengungsi dan mereka tidak berani lagi tinggal di kampung halamannya.

Muhammad, warga desa lainnya mengatakan, dengan musibah ini, maka masyarakat tidak lagi berkumpul seperti dulu lagi sambil melaksanakan ibadah puasa dan shalat Tarawih di masjid dan meunasah.

“Sekarang ini, kampung kami sudah porak poranda, dan masyarakat seperti sangat trauma dan mereka tidak mau lagi kembali,” ujarnya.

Tetap meugang Meskipun masih dalam suasana duka, korban musibah gempa masih bisa melaksanakan “meugang” di lokasi pengungsian di Kecamatan Ketol.

Pemantauan wartawan di lokasi pengungsian desa Genting Bulen, Kecamatan Ketol, para korban mendapat setumpuk daging meugang yang merupakan sumbangan dari dermawan.

Kepala Desa Genting Bulen Selamet (46) menyampaikan terimakasih kepada dermawan yang telah membagikan daging meugang tersebut.

Dikatakan, meskipun dalam suasana duka dan tinggal di pungisian, namun warga tetap melaksanakan tradisi pemotongan hewan (meugang).

“Kami atas nama warga menyampaikan syukur kepada Allah SWT, karena masih ada yang peduli terhadap korban gempa di daerah ini,” ujarnya.

Diperkirakan sebanyak 22 ribu lebih warga korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah tetap merayakan hari tradisi pemotongan hewan (meugang) dan ibadah puasa di tenda pengungsian.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyerahkan bantuan 50 ekor sapi, dan 44 ekor di antaranya akan didistribusikan bagi korban gempa di Aceh Tengah, sebagai daerah dengan dampak kerusakan terparah dan jumlah korban terbanyak.

Tradisi memasak menu olahan daging jelang Ramadhan tahun ini, harus dijalani sebagian besar masyarakat Aceh Tengah dalam kondisi memprihatinkan, dengan tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Mualem panggilan akrab Wagub mengatakan selain bantuan daging meugang, Pemerintah Aceh juga sedang memprioritaskan pembenahan sarana ibadah seperti masjid dan meunasah yang rusak dalam memasuki bulan Suci Ramadhan.

Menanggapi bantuan sapi untuk meugang yang diberikan oleh Pemerintah Aceh, Bupati Nasaruddin mengakui bantuan tersebut sangat berarti bagi warganya yang sedang berada dalam pengungsian.

Saat ini menurut Nasaruddin pengungsi di Aceh Tengah tercatat 48.563 jiwa yang tersebar di 252 kampung dari 352 kampung yang terdapat di daerah itu. (RH/ANT)