Hariman Siregar : 6 Juli Hari Berduka Indemo

Foto : sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Tanggal 6 Juli tampaknya tanggal berduka bagi Hariman Siregar dan aktivis Indonesian Democracy Monitor (Indemo). Bagaimana tidak? Di tanggal yang sama, tahun lalu, aktivis Indemo Moeslim Abdurahman meninggal dunia. Dan sabtu kemarin, di tanggal yang sama pula, Amir Husin Daulay, aktivis yang sempat nyaris tak pernah absen memimpin diskusi reboan Indemo, wafat.

“Kebetulan hari Jum’at kami melintas Karawang. Ayo, mampir melihat Muslim, kata saya ke Miang dan Rauf. Kami pun mampir ke San Diego Hill, melihat pusaranya, ternyata dia meninggal tanggal 6 Juli 2012,” ungkap Hariman.

Maka, begitu Amir meninggal dunia, penggerak Malari 1974 itu ambil inisiatif mengenang keduanya dalam acara Tahlil dan Mengunduh Gagasan Amir Husin Daulay dan 1 Tahun Mengenang Moeslim Abdurahman. Acara yang dihadiri ratusan aktivis itu digelar di lantai dasar sekretariat Indemo, Jl Lautze No.62C, Jakarta Pusat, Senin (8/7).

Tampak hadir di lesehan, antara lain Anggota DPR-RI Eva Sundari, peneliti Soekardi Rinakit, Ketua Umum Perhimpunan Gerakan Keadilan Bursah Zarnubi, Ketua Umum Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) Standarkiaa Latief, Mulyana W Kusumah, Direktur Lintas Madani Ray Rangkuti, Ketua Umum DPN Repdem Masinton Pasaribu, wartawan senior Jus Soemadipraja, Aktivis Senior Beathor Suryadi dan masih banyak lagi.

“Amir orangnya tegas, saat saya ragu, justru dia yang mendorong-dorong dan meyakinkan saya terus berada dalam keyakinan, perubahan bisa dilakukan lewat jalanan,” urai Hariman Siregar dalam sambutan awalnya. “Tapi sejak dia dirawat di RS Tebet, saya menyarankan dia banyak istirahat, sejak itu saya tidak pernah tahu apa yang dia lakukan. Paling saya tanya sama Marlin. Tapi kan memang Amir orangnya begitu, terus bergerak.”

Sedangkan Moeslim Abdurahman, dinilai Hariman Siregar orang yang konsisten memperjuangkan civil society. Gagasan-gagasannya unik dan tidak terduga-duga. Oleh karenanya, papar Hariman, Indemo kehilangan dua putra terbaiknya.

Sebelum Hariman Siregar memberikan sambutan, acara dibuka dengan pembacaan selintas tentang Amir Husin Daulay dan selintas tentang Moeslim Abdurahman. Selanjutnya acara dilanjutkan Tahlil yang dipimpin Habib Husein Al Habsy. Tak lupa, Habib tuna netra itu memuji Almarhum Amir Husin Daulay yang meskipun tidak punya anak, namun memiliki anak asuh 25 orang.

Acara dirurup setelah satu per satu aktivis diberikan waktu memberikan testimony. Rata-rata mereka memuji konsistensi kedua almarhum dalam memperjuangkan civil society. Kedua almarhum yang sama-sama meninggal 6 Juli itu dianggapnya makhluk langka. “Kita wajib meneruskan cita-cita dan perjuangan keduanya,” ucap penyair Soeparwan G Parikesit. (mardikanto)