Hormati Perbedaan Awal Ramadhan

Photo: antara

Selamat datang  ya Ramadhan.  Inilah bulan penuh rahmat, penuh barokah, dan penuh maghfirah (ampunan) yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin sedunia.  Allah SWT memberikan banyak keutamaan di bulan ini, sehingga Ramadhan juga sering disebut  sebagai tamu agung yang istimewa.

Tahun 2013 ini, atau  1434 Hijriah, umat Islam Indonesia memulai puasa Ramadhan pada hari yang berbeda.   Jamaah Tarekat Samanniyah di  Kota Padang, Sumatera Barat,  sudah memulai puasa Ramadhan pada Senin (8/7/) kemarin. Warga Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada Selasa (9/7) hari ini, sedangkan Pemerintah  melalui sidang isbat menetapkan awal puasa Ramadhan pada Rabu (10/7) besok.    

Perbedaan awal puasa Ramadhan bukan baru sekarang  terjadi. Tahun lalu situasinya  persis seperti sekarang.  Warga Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan  pada 20 Juli 2012, sedangkan Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan pada 21 Juli 2012. Meski berbeda dalam menetapkan awal Ramadhan, tahun lalu Muhammadiyah dan Pemerintah sama dalam menetapkan Idul Fitri, yakni pada 19 Agustus 2012. Tahun-tahun sebelumnya,  umat islam Indonesia juga sudah sering mengalami perbedaan dalam memulai puasa Ramadhan atau dalam merayakan Idul Fitri.

Di kalangan masyarakat bawah sebetulnya ada keinginan agar penetapan awal puasa Ramadhan dan penetapan Idul Fitri bisa kompak, seperti  di Saudi Arabia atau  di  di negara-negara Islam lainnya.  Agak kurang mantap rasanya jika antara tetangga rumah, atau bahkan orang yang tinggal serumah, berbeda dalam memulai puasa Ramadhan dan berbeda pula dalam merayakan Idul Fitri.

Tapi begitulah realitas yang ada di Indonesia.   Perbedaan awal puasa dan Idul Fitri masih akan tetap terjadi karena ada perbedaan metode dalam menentukan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan. Muhammadiyah menggunakan metode hisab  atau wujudul hilal dimana posisi bulan ditentukan berdasarkan perhitungan astronomi (falak), sedangkan NU dan mayoritas  ormas Islam di Indonesia menggunakan metode rukyat dimana posisi bulan harus dapat dilihat oleh mata atau bantuan teropong.  Perbedaan sering terjadi jika posisi bulan sudah positif di atas ufuk (menurut metode hisab sudah terjadi pergantian bulan),  tetapi belum di atas 2 derajat sehingga belum dapat dilihat (menurut metode rukyat belum terjadi pergantian bulan).

Penggunaan metode hisab dan metode rukyat  sudah menjadi bagian dari pemahaman keagamaan oleh masing-masing ormas Islam tersebut. Jadi, tidak pada tempatnya jika kita mempertentangkan mana metode yang paling baik atau paling benar.  Yang lebih utama adalah  bagaimana kita dapat membangun sikap toleransi dan saling menghargai terhadap  pemahaman keagamaan yang dianut oleh masing-masing kelompok.  

Mari kita mencari hikmah dari perbedaan  yang ada, dan kita jaga agar perbedaan ini tidak menimbulkan pertentangan yang dapat  merugikan bahkan dapat  menghancurkan umat Islam di Indonesia.

Pada akhirnya, kami ucapkan selamat berpuasa.  Semoga kita menjadi umat yang bertakwa.