Mesir Wajibkan Visa untuk Pendatang Suriah

Foto : Antara/Reuters

Beirut, Sayangi.com – Warga Suriah yang bepergian ke Mesir harus mengajukan permohonan visa. Aturan baru itu diberlakukan seiring melonjaknya aksi kerusuhan di Mesir, ungkap staf konsulat di Beirut, Selasa (9/7).

“Ada keputusan dari Kairo, setiap rakyat Suriah yang bepergian ke Mesir harus mengajukan permohonan visa di Kedutaan Besar Mesir,” kata anggota staf konsulat Mesir di Beirut, sekaligus menandaskan, “keputusan akan dibuat sekitar 10 sampai 15 hari setelah yang bersangkutan mengajukan permohonan visanya.”

“Saya tidak tahu apakah perubahan ini bersifat sementara atau permanen. Yang saya tahu adalah bahwa hal itu berlaku pada Senin,” tambahnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan hampir 90 ribu warga Suriah telah terdaftar di Komisaris Tinggi untuk Pengungsi di Mesir. Namun jumlah rakyat Suriah yang telah mengungsi ke Mesir diyakini jauh lebih banyak dari yang telah tercatat. Salah satu alasannya adalah karena sebelumnya rakyat Suriah tidak perlu memiliki visa untuk memasuki Mesir.

Staf Middle East Airline (MEA) di Lebanon mengkonfirmasi perubahan itu. “Warga Suriah sekarang memerlukan visa untuk pergi ke Kairo. Saya tidak memiliki informasi tentang alasan di balik perubahan itu,” kata seorang operator telepon.

Penerbangan MEA dari Beirut ke Kairo sering penuh oleh penumpang warga Suriah yang melarikan diri melalui jalan darat ke Lebanon, dan kemudian melanjutkan melalui udara ke Mesir.

Konfirmasi kebijakan baru itu muncul sehari setelah munculnya beberapa laporan jika beberapa warga Suriah dikembalikan setelah tiba di Kairo. Koran pemerintah Mesir Al-Ahram, Senin, melaporkan bahwa penumpang penerbangan dari kota Suriah pesisir Latakia ditolak masuk. Media Mesir juga melaporkan warga Suriah yang terbang dengan maskapai MEA ditolak masuk ke Kairo.

Meskipun akhirnya diizinkan masuk ke Kairo, pembangkang terkemuka Suriah Haytham al-Maleh harus menunggu izin dari pemerintah Mesir di bandara selama dua jam, katanya. “Saya punya koneksi, dan saya bisa mendapatkan izin untuk memasuki Kairo setelah dua jam menunggu di bandara,” kata Maleh.

“Tapi saya melihat sekitar 25 keluarga Suriah yang menunggu sebelum dideportasi.” “Kami terkejut dengan keputusan tersebut, terutama karena berasal dari Mesir, yang merupakan negara saudara Suriah,” kata Maleh, yang merupakan anggota dari oposisi utama Suriah Koalisi Nasional yang tinggal di Kairo. Maleh juga menegaskan, koalisi tengah bekerja untuk meyakinkan pihak berwenang Mesir. guna membatalkan keputusan itu.

Mesir telah mengalami kerusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 30 Juni, yang dipicu oleh aksi unjuk rasa besar menuntut pengunduran Presiden Mohamed Morsi yang dipimpin oleh militer. Kini jalanan di kota-kota Mesir dipenuhi bentrok mematikan antara kelompok pendukung dan penentang Morsi. (MARD/Ant)