Pemerintahan Sementara Mesir Digelontor 8 Miliar USD oleh Arab Teluk

Foto: Reuters

Kairo, Sayangi.com – Pemerintah sementara Mesir, dengan $ 8 miliar bantuan Arab Teluk, mulai bekerja pada membentuk kabinet pada hari Rabu (10/7), seminggu setelah presiden terpilih Islam digulingkan oleh tentara hingga menyebabkan gelombang kekerasan di mana setidaknya 90 orang tewas.

Perselisihan antara kelompok-kelompok politik atas keputusan penetapan aturan untuk transisi, yang dirancang untuk mengantar pemilihan parlemen dalam waktu sekitar enam bulan, bisa menunjukkan jalan yang bergelombang kedepan.

Mesir masih terhuyung-huyung selama seminggu terakhir setelah penggulingan Mursi, yang awalnya dipicu demonstrasi besar di Kairo dan di luar kairo dengan jutaan orang yang ingin dia pergi, muak dengan stagnasi ekonomi dan apa yang mereka lihat sebagai perebutan kekuasaan Islam.

Menurut Ikhwanul Muslimin, bagaimanapun pemindahannya dan sebesar apapun pembalikan demokrasi dengan kepentingan tertanam yang tidak akan pernah menerima kemenangan pemilu mereka, Ikhwan membantah memiliki agenda Islam yang agresif.

Khawatir kembali terjadi penekanan seperti yang terjadi di jaman Hosni Mubarak berkuasa, rakyat yang berasal dari Ikhwanul Muslimin bergerak pada hari Jumat untuk membela pemimpinnya yang dipilih secara demokratis, Mursi. Dalam demonstrasi itu membuahkan bentrokan hebat yang melibatkan mereka yang anti terhadap pemerintahan Mursi hingga mengakibatkan 35 orang tewas.

“Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan negara ini adalah pemulihan presiden yang dipilih oleh rakyat. Kami tidak akan menerima konmpensasi lain yang ditawarkan bahkan jika kami harus terbunuh,” kata Hoda Ghaneya, 45, seorang aktivis Ikhwanul Muslimin.

Dalam peledakan bom di Sinai Utara, dua orang tewas dan enam terluka Selasa (9/7) ketika gerilyawan menyerang sebuah pos pemeriksaan, di tengah kekhawatiran bahwa kemarahan yang terjadi akibat meningkatnya kekerasan di wilayah yang berbatasan dengan Israel.

Pertumpahan darah Senin (8/7) menyentuh negara-negara yang merupakan pendonor utama Mesir seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Israel yang telah memiliki perjanjian perdamaian dukungan AS sejak tahun 1979.

Uni Emirat Arab juga sesegera mungkin menawarkan hibah sebesar $ 1 miliar dan pinjaman sebesar $ 2 miliar. Arab Saudi menawarkan $ 3 miliar tunai dan pinjaman, dan tambahan nilai $ 2 miliar bahan bakar. Ini diharapkan bisa membantu Mesir menggelar Pemilu dalam waktu 6 bulan dan keluar dari stagnasi ekonomi. (FIT/Reuters)