Belajar Sejarah Kiswah, Dari Kulit Onta Hingga Kain Sutra

Foto: presiden.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Jika dikaruiai berkah untuk bisa datang ke Makkah menunaikan ibadah umrah atau haji, tengoklah kain hitam bertuliskan kaligrafi indah di atas ka’bah yang seringkali tak menjadi perhatian. Umat muslim di dunia tentu seringkali mendengar tentang kiswah. Kiswah adalah kain hitam penutup ka’bah. Jangan dulu meremehkan Kiswah ya, tahu nggak? Kiswah rupanya menghabiskan biaya miliaran rupiah setiap diganti saat musim haji karena terbuat dari kain tenun sutra yang dihiasai kaligrafi berbahan dasar emas dan perak.

Menurut sejarah, Ka’bah sudah diberi Kiswah sejak jaman nabi Ismail AS, namun memang tidak ada catatan mengenai terbuat dari apa dan berwarna apa Kiswah tersebut. Baru pada jaman Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan bahwa Kiswah terbuat dari kain tenun . Sejak saat itulah pemasangan Kiswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Nabi Muhammad SAW sendiri juga memang pernah memerintahkan pembuatan Kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan keempat sahabat Nabi Muhammad SAW (Khulafa al Rasyidin) memerintahkan pembuatan Kiswah dari kain benang kapas.

Warna Kiswah sendiri menurut catatan sejarah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti sekarang. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman memiki warna merah dan berlajur-lajur. Pada masa Khalifah Mamun ar Rasyid, Kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Pada masa Khalifah An Nasir (sekitar abad 16 M) Kiswah berwarna hijau, juga pernah dibuat dengan berwarna kuning atas perintah Muhammad Ibnu Sabaktain. Setelah berubah warna dari tahun ke tahun akhirnya diputuskanlah oleh Khalifah al-Mamun untuk memberi satu warna tetap yaitu hitam.

Kiswah pertama kali dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin Ad dengan bahan baku dari kulit unta. Namun dalam perkembangannya Kiswah sekarang ini dibuat dari kain sutra. Untuk membuat sebuah Kiswah dibutuhkan 670 kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain dimana masing – masing kain tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm. Ukuran tersebut disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Kabah dan juga keempat sisinya. Sementara untuk hiasan berupa pintalan emas, dibutuhkan 120 kg emas dan beberapa puluh kg perak.

Kiswah ini sendiri diproduksi sejak tahun 1931 di sebuah pabrik dan dilakukan dengan cara modern, menggunakan mesin tenun modern dengan mempekerjakan skitar 240 perajin Kiswah dia area pabrik seluas 10 hektar. Dalam pabrik itulah Kiswah dibuat secara massal mulai dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutra, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak dan terakhir adalah penjahitan.

Kaligrafi yang digunakan untuk menghiasi Kiswah ini terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dnegan haji dan Kabah, juga asma-asma Allah. Kiswah dengan berhiaskan kaligrafi yang menggunakan bahan baku benang sutera, emas dan juga perak ini konon seharga 50 milyar.Sehingga setiap tahun Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi harus menyediakan dana sekitar Rp 50 miliar untuk pembuatan kiswah. Menurut sejarah, tradisi penggantian kiswah yang dilakukan setiap tahun pada musim haji dan menjadi sebuah tradisi yang harus selalu dijalankan. Subhanallah. (FIT/berbagaisumber)