Pengembangan EBT Terganjal Biaya Tinggi

Foto: iig-indonesia.com

Jakarta, Sayangi.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui upaya pengembangan Energi Baru terbarukan (EBT) dalam rangka mengurangi ketergantungan energi fosil (migas) masih terhambat biaya yang cukup tinggi.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana menyebutkan, salah satu EBT yang bermodalkan besar yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Proyek itu dibutuhkan dana lebih dari Rp20 miliar per satu megawatt (MW). Bahkan perhitungan tersebut belum termasuk biaya pembebasan lahan dan pengadaan baterai atau componen penyimpanan listrik hasil produksi.

“Investasi di PLTS yaitu salah satu investasi yang higt cost atau bermodalkan besar, yakni mencapai lebih dari Rp20 miliar dan kita akan mengupayakannya dengan mengajak swasta mau berinvestasi bangun PLTS itu,” ujar Rida di Kantor ESDM, Jakarta, Jum’at (12/7/2013).

Rida mencontohkan, hal itu tercermin pada saat membangun PLTS di Bangli-Bali yang menelan anggaran jauh lebih besar sekitar Rp26 miliar. Namun karena dibantu dengan dana APBN, maka dari pihak pengembang swasta diberikan kewajiban untuk memenuhi persyaratan yang antaranya harus terpenuhi kepemilikan lahan atau lahan hasil bisa bekerja sama dengan pihak ketiga. Hal tersebut bertujuan agar proyek PLTS dapat berjalan maksimal.

“Kalau yang di Bangli (Bali) itu sekitar Rp26 milyar dari dana APBN. Kalau dana APBN kan menjamin keuntungan untuk pengembang sekitar 10 persen, itu pun belum termasuk lahan karena di Bali lahannya mahal, maka anggarannya di atas Rp20 milyar,” ungkap Rida.

Setelah itu jelas dia, pemerintah lalu menerbitkan perizinan dan melakukan perjanjian kontrak jual beli listrik dengan PT PLN Persero, dengan ketentuan harga Rp 25 hingga Rp 30 sen per-KWH. Sementara tahun ini sekitar 72 titik proyek PLTS mulai ditenderkan oleh Kementerian ESDM. (MI)