Sulis Sering Diminta Ambil Uang untuk Irjen Djoko Susilo

Foto : Antara

Jakarta, Sayangi.com – Staf Bendahara Korlantas Sulistianto mengaku sering diminta oleh Bendahara Korlantas Kompol Legimo mengambil uang dari bendahara Primer Koperasi Anggota Kepolisian (Primkoppol) Khalijah untuk keperluan mantan Kakorlantas Irjen Pol Djoko Susilo.

“Saya diminta Pak Legimo untuk mengambil uang ke bu Khalijah, Pak Legimo mengatakan yang di atas tidak ada uang dan perlu uang, kemungkinan yang di atas adalah Pak Djoko,” kata Sulistianto dalam persidangan di pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (12/7).

Sulistianto yang sudah pensiun dari staf kebendaharaan Korlantas pernah diminta Legimo pergi ke rumah Khalijah untuk mengambil uang. “Saya mengambil uang dalam kantong kresek, mungkin nilainya Rp200-250 juta, kemudian saya kembali ke kantor, dan saya serahkan ke Pak Legimo, saya dua kali mengambil, yang kedua jumlahnya sekitar Rp250 juta,” ungkap Sulistianto.

Sulistianto juga mengaku pernah dihubungi Legimo menjaga empat kardus yang rencananya akan diambil oleh Djoko di kantornya di Korlantas. “Ia mengatakan tolong kardus ditunggu karena tidak ada yang menjaga, istri saya sakit kata Pak Legimo, saya langsung ke kantor, tapi ternyata Pak Djoko tidak datang malam itu,” ungkap Sulianto.

Sulistianto mengaku akhirnya pulang pada sekitar pukul 06.30 keesokan paginya dan kembali ke kantor menggunakan pakaian dinas serta melapor mengenai ketidakdatangan Djoko ke Legimo. “Kemudian jam 5 sore saya pulang, sekitar Maghrib saya ditelepon mbak Tiwi mengatakan Pak Djoko mau ambil uang, tapi saya tanya kenapa sama saya? Saya kembali ke kantor dan dusnya masih ada di sana,” ungkap Sulistianto.

Tiwi yang ia maksud adalah sekretaris pribadi Djoko, Ipda Benita Pratiwi. “Awalnya saya tidak tahu isinya uang, tapi karena Tiwi mengatakan supaya menjaga kardus itu saya jadi berpikir itu uang, saat saya ke ruangan Pak Djoko beliau menanyakan mana Legimo? Saya sampaikan istrinya sakit, kalau bapak mau ambil uang itu kardusnya, tapi Pak Djoko tidak mau dan mengatakan ‘Saya mau sama Legimo saja,” ungkap Sulis menceritakan peristiwa itu.

Kardus kemudian dibawa ke mobil warna gelap oleh ajudan Djoko, Wasis Triambudi dan Supri. “Saya tidak jelas melihat dibawa ke mobil apa karena Pak Djoko marah dan saya jadi takut juga sehingga menjauh, bahkan Pak Legimo dikepret,” ungkap Sulis.

Kesaksian Sulis sejalan dengan kesaksian Legimo dalam sidang 31 Mei 2013 dengan saksi Kompol Legimo yang mengaku menerima 4 kardus besar dari direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) Budi Susanto selaku pemenang tender pengadaan simulator senilai Rp30 miliar.

Sulis juga mengaku kerap diminta untuk mendatangani cek. “Saya tanda tangan cek saja, lalu saya serahkan ke Pak Legimo, sampai 8 cek, kalau disuruh mencairkan saya cairkan dan minta bantuan Provos. Nilainya bervariasi ada yang Rp1,5 miliar,” terang Sulis.

Namun penempatan uang di dalam kardus itu dibantah oleh sekretaris pribadi Djoko, Tiwi. Ia mengatakan kardus yang ada di kantor Djoko lebih untuk memuat cenderamata dari dealer mobil. “Dealer sering mengirimkan brosur, jadi isi kardus itu kalender dari dealer bisa juga merchandise, yang ditaruh di tempat Pak Djoko, dan akan didistibusikan ke anggota,” ungkap Tiwi.

Sedangkan ajudan Djoko, Wasis juga membantah menemani ketua pengadaan simulator sekaligus ketua Primkoppom AKBP Teddy Rusmawan untuk mengantarkan uang senilai Rp4 miliar dalam kardus untuk mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, serta sejumlah anggota Komisi III dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, dari Fraksi PDI-Perjuangan Herman Heri, dari fraksi Golkar Azis Syamsudin, serta dari fraksi Partai Gerindra Desmond Mahesa ke Plaza Senayan.

“Paginya saya ke percetakan, membawa kardus produk percetakan dari Bendungan Hilir, lalu Pak Teddy mengatakan diperintah bapak pergi ke Senayan, saya diminta ‘stand by’ di mobil kemudian Pak Teddy keluar, kemudian dia kembali dan meminta kunci mobil dari saya, saya disuruh keluar ke toiet dan setelah saya kembali kardus sudah tidak ada,” ungkap Wasis.

Artinya Wasis mengubah keterangannya saat membuat Berita Acara Pemeriksaan di KPK. “Di KPK saya dikatakan kalau memberikan keterangan palsu minimal kurungan 3 tahun, kamu plih mana bapak (Djoko) atau istri kamu? Saya jawab istri, saya sedang dalam tekanan saat diperiksa, sebenarnya saya masih sayang bapak,” cerita Wasis menceritakan pemeriksaannya di KPK.

Dalam perkara korupsi pengadaan simulator, Djoko didakwa melangar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan ataas UU No 31 tahun 1999 Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 65 ayat (1) KUHP,” ungkap Roni.

Ancaman pidana atas perbuatan itu adalah pidana penjara 4-20 tahun dan pidana denda Rp200 juta hingga Rp1 miliar. (MARD/Ant)