Pasukan Bersenjata Al-Qaeda Bunuh Komandan Pemberontak Suriah

Foto: cbsnews

Beirut, Sayangi.com – Pasukan bersenjata Al Qaeda membunuh seorang komandan pemberontak di barat laut Suriah, sebuah kelompok aktivis dan juru bicara oposisi mengatakan Jumat (12/7), dalam tanda peningkatan ketegangan dan pertikaian antara kelompok-kelompok yang memerangi rezim Damaskus.

Menurut kantor berita SANA negara, penembakan itu terjadi saat beberapa mortir menghantam lingkungan Amara pusat di ibukota Damaskus, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan orang. Selain itu, mortir juga jatuh di daerah perumahan dan setidaknya 40 orang terluka dan dibawa ke rumah sakit.

Damaskus telah ditargetkan serangan mortir selama satu bulan terakhir. Serangan ini juga menewaskan banyak orang serta menyisakan luka di hati penduduk Damaskus.

Berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan anggota Negara Islam Irak dan Levant (kelompok yang dilaporkan merger dengan cabang Al Qaeda di Irak dan Suriah) berada di balik penembakan komandan Angkatan Darat Suriah, Kamal Hamami. Observatorium mengatakan, sejumlah pria bersenjata menembak mati Hamami Kamis malam setelah gerilyawan berusaha untuk menghancurkan sebuah pos pemeriksaan yang didirikan di Jabal al, gunung Akrad di provinsi pesisir Latakia. Ia mengatakan dua anak buahnya terluka parah dalam penembakan.

Seorang juru bicara untuk Koalisi Nasional Suriah, Sarah Karkour, mengatakan Tentara Pembebasan Suriah telah mengkonfirmasi kematian Hamami yang di “tangan Negara Islam di Irak dan Levant.” Namun, dia tidak menceritakan secara rinci.

Koalisi utama yang didukung Barat merupakan sayap politik Tentara Pembebasan Suriah.

Aktivis di masa lalu telah melaporkan bentrokan yang terjadi sesekali antara kelompok pemberontak dan militan Islam aktif di daerah yang dikuasai pemberontak, terutama di utara, dimana oposisi memiliki kontrol dari sebagian besar wilayah.

Ada juga pertikaian antara Kurdi dan kelompok Arab yang ingin mengambil alih kontrol wilayah, ditangkap pemerintah di sepanjang perbatasan dengan Turki pada tahun lalu. Pertempuran mulai mereda setelah kesepakatan gencatan senjata awal tahun ini.

Pembunuhan Hamami itu akan menggarisbawahi perebutan kekuasaan antara kelompok-kelompok pendalaman moderat dan ekstremis yang berjuang dalam perang sipil Suriah.

Pembunuhan itu terjadi sebagai blok oposisi utama Suriah yang mengeluh bahwa beberapa anggota parlemen AS menghalangi upaya untuk meningkatkan dukungan bagi para pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah Presiden Bashar Assad.

Presiden Barack Obama baru-baru ini mengatakan Amerika Serikat bersedia untuk mengirim senjata ke oposisi. Meski begitu, Washington telah enggan untuk mempersenjatai pemberontak untuk memerangi pasukan Assad karena kelompok-kelompok Islam radikal, termasuk mereka bekerjasama dengan al-Qaeda, telah muncul sebagai kekuatan tempur paling efektif mereka. Negara-negara Barat juga mengungkapkan keprihatinan mereka atas kurangnya perintah terpadu antara kelompok-kelompok pemberontak.

Dalam sebuah pernyataan Kamis malam, koalisi mendesak Kongres untuk mendukung pengiriman senjata ke pemberontak.

“Koalisi sangat prihatin dengan laporan yang menunjukkan bahwa ada unsur penolakan dalam Kongres AS yang menunda upaya pemerintah untuk meningkatkan dukungan kepada Tentara Pembebasan Suriah” kata pernyataan itu. Koalisi akan memastikan “bahwa senjata tidak akan mencapai unsur-unsur ekstremis,” katanya menambahkan.

Lebih dari 93.000 orang telah tewas sejak konflik Suriah dimulai pada Maret 2011 dengan protes damai menentang pemerintahan Assad yang meningkat menjadi perang saudara. Selama tahun lalu, konflik menjadi semakin sektarian, dengan pemberontak yang sebagian besar merupakan penganut islam Sunni yang dibantu oleh pejuang asing yang memerangi pasukan pemerintah yang didukung oleh pejuang Syiah Lebanon, Hizbullah.

Pemerintah Assad didukung oleh Rusia dan Iran. Moskow yang terus memasok Assad dengan senjata, mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk memenuhi kontrak yang ada. AS, serta sekutu Eropa dan Teluk, telah mendukung oposisi dalam konflik, mengirim dana dan bantuan kepada pemberontak. (FIT/cbsnews)