Harga Cabai Tembus Rp150 Ribu/Kg

Foto: sayangi.com/Okky

Jakarta, Sayangi.com – Harga cabai terus melambung. Kenaikan yang mencapai hingga di atas Rp100 ribu tersebut hampir merata dari Jakarta hingga ke berbagai daerah.

Di Jakarta misalnya, di beberapa pasar seperti Pasar Minggu, Pasar Jatinegara, hingga Pasar Rumput, Jakarta Selatan, harga cabai langsung melonjak tajam. Kenaikan yang merupakan dampak kenaikan harga BBM dan menjelang lebaran itu tak bisa terelakkan.

“Ini harga cabai sudah Rp120 ribu, gimana kita mau dagang,” kata Olala, salah satu pembeli di Pasar Rumput, Sabtu (13/7/2013).

Di Sangatta Selatan dan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim, cabai tiung pada Sabtu sekitar Rp130 ribu per kilogram hingga Rp150 ribu/kg.

Ratna (42), pedagang sayuran yang tinggal di Jalan Pendidikan Desa Teluk Lingga Sangatta Utara, menyatakan prihatin dengan makin mahalnya harga cabai tiung dari harga sebelumnya sebesar Rp60 ribu/kg sebelum bulan puasa.

Ia mengkhawatirkan harga cabai tiung akan naik lagi menjelang Idulfitri 1434 Hijriah, mengingat pada saat itu kebutuhan masyarakat akan cabai makin banyak.

Hal senada juga disampaikan oleh Suryana (50), yang sehari-hari menyiapkan jualan makan lauk-pauk untuk buka puasa, seperti ayam bakar, ikar bakar, dan beberapa masakan yang menggunakan bahan baku cabai.

Penjual makanan di Jalan Pangeran Diponegoro Sangatta Utara itu mengaku membeli cabai di Pasar Tradisional Singa Geweh Sangatta Selatan dengan harga Rp150 ribu/kg.

“Saya betul-betul kaget karena hari ini harga cabai menembus Rp150 ribu/kg. Harga yang tidak pernah terjadi di Sangatta selama bertahun-tahun,” katanya.

Untuk menyisiati agar pelanggannya tidak lari, dirinya tidak menaikkan harga, tetapi porsi sambelnya dikurangi. “Rasanya tidak berubah dan tetap enak dan menggairahkan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Timur Ir. Sarifuddin Giting saat dikonfirmasi, Sabtu, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan melambungnya harga cabai di Kutai Timur, khususnya di pasar-pasar tradisional dan pasar induk di Sangatta.

Pertama, kata dia, gagalnya panen cabai lokal akhir Mei akibat banjir yang melanda beberapa daerah penghasil cabai lokal, seperti di Kabo Jaya, Singa Karti, dan di Sangatta Selatan. Akibatnya, pasokan cabai lokal menipis.

Kedua, lanjut dia, selama ini, daerah itu masih bergantung kepada pemasok cabai dari luar, seperti dari Samarinda dan bahkan dari Pulau Jawa dan Provinsi Sulawesi Selatan. Begitu petani lokal gagal panen, memicu naiknya harga cabai.

“Selain dua faktor tersebut, juga akibat dipengaruhi kenaikan harga BBM dan bersamaan dengan bulan puasa. Momen ini dimanfaatkan pedagang menaikkan harga cabai,” kata Sarifuddin Ginting. (MI/Ant)