Akbar Tandjung: Konvensi Jangan Jadi Akal-akalan Demokrat

Foto: Ant

Jakarta, Sayangi.com – Politisi senior Akbar Tandjung memuji langkah Partai Demokrat (PD) yang melakukan konvensi dalam penentuan calon presiden (Capres). Menurut Akbar, langkah itu sangat baik terhadap demokratisasi di Indonesia.

“Secara ide pembangunan bagi demokrasi, konvensi itu bagus sekali,” kata Akbar saat menggelar Buka Puasa Bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di kediamannya, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2013).

Politisi yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar ini pun menyatakan mendukung langkah konvensi PD. Hanya saja ia menyarankan agar konvensi yang dilakukan PD bukan hanya akal-akalan, melainkan murni menginginkan calon presiden yang memang diinginkan publik.

“Tapi jangan sampai (konvensi, red) itu dikesankan akal-akalan, karena kalau akal-akalan kontraproduktif bagi Partai Demokrat,” ungkapnya.

Oleh karenanya ia berharap konvensi Partai Demokrat ini dilakukan secara terbuka dan akuntabel melalui hasil survei. Menurut Akbar, penentuan final Capres yang ditentukan oleh survei merupakan langkah terbaik. Langkah survei yang digabung dengan proses seleksi di internal PD merupakan langkah terbaik dalam mengusung seorang Capres.

“Saya sangat mendukung kalau konvensi itu diikuti dengan survei, karena dengan survei akan diketahui siapa calon, siapa tokoh yang memang diinginkan publik untuk menjadi presiden,” jelas mantan Ketua DPR RI ini.

“Kombinasi mekanisme antara internal dan eksternal Partai Demokrat sangat baik, sehingga nanti calon secara internal terseleksi melalui mekanisme konvensi dan secara publik terseleksi melalui mekanisme publik.”

Seperti diketahui, setelah PD melakukan cara konvensi, rumor yang berkembang menganggap cara itu hanya semata pencitraan. Konvensi tersebut dipandang sebagai alat untuk menaikkan elektabilitas PD yang tengah terpuruk. Penentuan akhir Capres PD dianggap akan tetap berada di tangan Ketua Umum PD saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.

Menanggapi hal itu, Akbar enggan berspekulasi. Ia hanya menyarankan agar konvensi yang dilakukan bisa terbuka dan obyektif.

“Kalau soal pencitraan tidak apa-apa, tapi survei yang dilakukan obyektif, independen, dan kredibel,” jelasnya.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini pun mencontohkan Golkar di bawah kepemimpinannya yang melakukan langkah konvensi pada 2004 lalu. Saat itu jelas Akbar, citra Golkar anjlok karena dipandang sebagai partai ‘warisan’ Orde Baru yang tidak pro-demokrasi.

“Saat itu Golkar juga ingin menunjukkan kepada publik kalau Golkar sudah berubah dan betul-betul berorientasi pada cita-cita reformasi, terutama demokratisasi, ternyata publik menerima secara positif. Dan itulah yang membuat Golkar dipandang publik memang sudah berubah,” ungkapnya menandaskan.