Diwarnai Kontroversi, Australia Hentikan Penyelamatan Kapal Suaka

Foto: ABC

Jakarta, Sayangi.com – Pihak berwenang di Australia telah menghentikan operasi pencarian korban selamat dari kapal pencari suaka yang karam dekat Pulau Christmas dua hari lalu.

Otorita Pencarian dan Penyelamatan Maritim Australia menegaskan, keputusan itu didasarkan pada tipisnya kemungkinan untuk menemukan lagi korban selamat. Tercatat seorang bayi laki-laki tewas dan delapan orang hilang, sementara 88 orang berhasil diselamatkan. Upaya pencarian yang melibatkan kapal Bea Cukai, Angkatan Laut, pesawat sipil carteran, dan sebuah kapal dagang itu menuai kontroversi lantaran dianggap tidak cepat tanggap.

Terungkap, Polisi Federal Australia sebenarnya sudah menerima kabar seorang pria di Melbourne Jumat pagi. Si pria mengabarkan, baru saja berbicara dengan seseorang dari kapal pencari suaka yang mengatakan kapal mereka tengah menghadapi bahaya di perairan Australia. Namun baru 5 jam kemudian, kapal beacukai Triton diinstruksikan untuk menolong kapal pencari suaka itu.

Mantan Duta Besar Australia Tony Kevin mengatakan, otorita setempat mempertaruhkan nyawa manusia dengan terlambatnya pertolongan terhadap para korban. “Ada doktrin yang mengakar di Perlindungan Perbatasan dan sistem keselamatan Maritim Australia bahwa pesan SOS dari para pencari suaka sebaiknya tidak usah dipercaya, karena mereka cuma mengerjai kita,” papar Tony.

Sementara Menteri Dalam Negeri Ausralia, Jason Clare menyatakan, tinjauan internal akan dilakukan terhadap standar operasi penyelamatan di negara itu. Total ada sekitar 97 orang dari Iran, Afghanistan, dan Sri Lanka di kapal bernasib naas itu, yang diduga berangkat dari Indonesia.

Perdana Menteri Kevin Rudd sudah menyatakan bela sungkawa terhadap musibah ini, sembari menegaskan pentingnya kerjasama dengan Indonesia untuk menangani masalah penyelundupan manusia ini. (MSR/ABC)