Diprediksi Menang 2014, PDIP Tetap Ogah Capreskan Jokowi?

Foto: Dok/Ist

Jakarta, Sayangi.com – Meski citra dan tingkat elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terus melejit dan diprediksi menang, PDI Perjuangan belum akan memutuskan mantan Walikota Solo tersebut sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

“Belum membahasnya secara detail. Menunggu saja hasil pemilihan umum Legislatif, sambil mempersiapkan konsolidasi dan mengegakkan mengorganisir masyarakat pemilih untuk Pileg 2014,” kata Tjahjo saat dihubungi, Senin (15/7).

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo juga menampik persepsi bahwa Jokowi sedang melakukan pencitraan untuk pilpres. Langkah dan kerja orang nomor satu di DKI Jakarta, yang terpublikasi di media massa, itu, kata Tjahjo, semata-mata melaksanakan tugas sebagai Gubernur dalam menjabarkan janji-janji untuk melakukan reformasi pembangunan secara cepat, terpadu dan terkoordinasi dengan baik.

Pernyataan Tjahjo ini sekaligus menanggapi hasil riset Institute for Transformation Studies (Intrans) yang memprediksi Jokowi akan memenangi pertarungan secara mutlak dan meyakinkan jika dia dicalonkan sebagai capres.

Tjahjo menegaskan bahwa hasi survei atau riset bukan satu-satunya tolak ukur untuk sebuah keputusan partainya dalam mengusung capres yang akan bertarung pada pesta demokrasi nasional lima tahunan yang akan datang. Hasil survei, lanjut dia, salah satu materi pertimbangan saja.

Seperti diberitakan sebelumnya, hasil riset Institute for Transformation Studies (Intrans) melansir Jokowi bisa memenangi Pilpres jika mengacu sikap dan jawaban 150 responden. Metodelogi riset itu adalah kualitatif dengan tema “Persepsi dan Sikap Pemilih Terhadap Asosiasi dan Atribut Kandidat Capres dan Cawapres 2014”.

Direktur Intrans Saiful Haq mengatakan persepsi dan sikap pemilih terhadap atribut kandidat Capres dan Cawapres seluruh prasyaratnya dimenangkan secara mutlak dan meyakinkan oleh Jokowi. Menurut dia, minat dan sikap responden yang memenangkan Jokowi sebenarnya banyak dipengaruhi oleh atribut “merakyat”. Bukan dari rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi, tapi lebih banyak karena persepsi responden, mengindentifikasi Jokowi sebagai “rakyat kebanyakan” dengan menggunakan “Ndeso” sebagai atribut yang berarti merakyat.

“Secara berurutan hasil riset ini menunjukkan peluang Pilpres adalah, Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan, dan Gita Wirjawan,” papar Saiful Jakarta, Minggu (14/7) kemarin. (HST)