Tak Kreatif Cari Duit, Pertamina Harus Batalkan Eksplorasi Shale Gas

Foto: guim.co.uk

Jakarta, Sayangi.com – Bertentangan dengan iklannya yang mengembar-gemborkan “Semangat Terbarukan”, Pertamina sebagai perusahaan milik negara justru kian jauh dari semangat terbarukan itu, terkait rencana mereka menjadi perusahaan migas pertama di tanah air yang melakukan eksplorasi shale gas.
 
Demikian diungkapkan Pius Ginting, Manajer Kampanye Tambang dan Energi Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Menurut dia, ancaman serius terhadap dampak kesehatan dan lingkungan akan nyata dengan eksplorasi shale gas ini. Yang paling serius adalah dampak terhadap kualitas air tanah.
 
Shale gas adalah gas alam nonkonvensional, sebagian besar terdiri atas metan, terdapat di reservoir pada batuan shale. Shale adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pemadatan lumpur, liat, dan batuan halus lainnya. Hal ini membuatnya sulit diekstraksi karena batuan shale sulit ditembus (nonpermeable). Alhasil, untuk ekstraksinya digunakan proses yang dikenal dengan peretakan (hydraulic fracture atau fracking).
 
“Fracking dilakukan pada pemboran dalam (umumnya 1,5 km hingga 6 km) ke dalam Bumi, secara vertikal atau horizontal, dilakukan bersama injeksi air, bahan butiran seperti pasir (proppant) dan bahan kimia (termasuk bahan yang sangat memicu kanker: benzene dan formaldehyde). Menggunakan tekanan tinggi untuk merekahkan shale dan memaksa gas keluar lewat pori-pori dalam batuan ke dalam sumur produksi,” papar Pius kepada wartawan, di Jakarta, Senin (15/7).
 
Air limbah, sambung dia, terkontaminasi dengan bahan kimia perekahan dan bahan polutan alami seperti logam berat, akan muncul ke permukaan. Setiap sumur produksi biasanya menurun setelah 18 bulan karena konsentrasi gas menurun. Akibatnya, operator membuat lubang lain di sekitar lubang yang pertama.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), lapangan gas konvensional mungkin hanya perlu kurang dari satu sumur per 10 km persegi, tapi lapangan gas tidak konvensional butuh lebih dari satu sumur per km² sehingga sangat berpengaruh terhadap penduduk lokal dan lingkungan. “Investasi shale gas menghambat pengembangan energi terbarukan. Dengan eksplorasi shale gas, Pertamina dan perusahaan migas lain akan membuat Indonesia kian terkunci dan ketagihan pada energi fosil,” tandas Pius.

Padahal, target Pemerintah untuk pengembangan energi terbarukan masih rendah (kurang dari 10% pada 2025). Target ini kian sulit dicapai bila investasi justru dilakukan pada shale gas, bukan di energi terbarukan.
 
“WALHI menilai, sebagai perusahaan negara, seharusnya Pertamina terdepan dalam pengembangan energi terbarukan agar target Pemerintah untuk pengurangan emisi gas rumah kaca bisa tercapai. Pengembangan shale gas perlu dikaji ulang atau dibatalkan,” demikian Pius. (MSR)