Dirjen EBTKE: Sektor Industri Harus Hemat Energi

Foto: staff.unila.ac.id

Jakarta, Sayangi.com – Penggunaan energi di sektor industri belum menerapkan prinsip-prinsip efisiensi dan penghematan. Padahal, penggunaan energi ini sudah sangat tinggi dengan pangsa 38 persen terhadap konsumsi energi nasional.

Demikian dikemukakan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Rida Mulyana dalam penandatangan MoU antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan The New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) of Japan dalam penerapan Demonstration Project for Smart Communities in Industrial Park, di Jakarta, Senin (15/7/2013).

Menurut Rida, jika penghematan dapat dilakukan di setiap industri, akan ada potensi penghematan energi yang kini masih relatif masih besar, yakni 10-30 persen. Hal perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi, termasuk menjaga kecukupan suplai untuk sektor industri.

“Tantangan utama yang dihadapi adalah penggunaan energi efisien dan penyediaan energi dengan kualitas tinggi melalui penerapan teknologi smart community. Penerapan ini dapat dilakukan untuk menciptakan keseimbangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Untuk itu, MoU antara Kementerian ESDM dengan NEDO ini ingin menerapkan proyek smart communities di kawasan industri Suryacipta. Proyek Smart Communities ini memiliki tiga teknologi utama, yakni pertama, penerapan teknologi untuk menstabilkan kualitas listrik. Kedua, pengaturan regulasi tuntutan dan suplai sistem energi guna mengendalikan permintaan listrik. Ini dipadukan dengan Factory Energy Management System (FEMS) untuk mempromosikan konservasi energi. Ketiga, penggunaan Information Communication Technology (ICT) Platform sebagai dasar umum untuk mewujudkan teknologi yang pertama dan kedua.

“Projek ini berjangka selama 2,5 tahun. Dalam 2,5 tahun kita akan banyak belajar upaya penerapan efisiensi energi yang kita peroleh,” ungkap Rida.(MI)