Ridwan Saidi: Sistem Ini Sudah Tidak Bisa Dipertahankan

Foto: Sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ridwan Saidi menilai telah terjadi penyimpangan mendasar terhadap semangat pembentukan Negara Republik Indonesia. Karena itu, Ridwan menyimpulkan sistem sekarang ini sudah tidak bisa dipertahankan.

“Tingkat kepercayaan pada pemilihan umum sangat rendah. Hanya melibatkan 45 persen saja. Jadi, hasilnya juga tidak bisa meyakinkan orang,” tukas Ridwan, Senin (15/7) pada diskusi di Tebet, Jakarta. Diskusi ini diselenggarakan Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) pimpinan Bursah Zarnubi dengan tema “Menuju Indonesia yang Dicita-citakan”. Hadir sebagai narasumber lainnya mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (1966-1976) Drs. Soerjadi dan mantan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) Chris Siner Keytimu.

Menurut Ridwan, pasca-Reformasi 1998 kebebasan disalahartikan. Kemerdekaan semata menjadi kebebasan dalam pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah. Konstitusi pun diacak-acak, berbagai institusi baru dibentuk seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), dan lain sebagainya.  “Maka terjadilah high cost democracy,” ujar Ridwan.

Budayawan Betawi ini mengambil contoh perbedaan era Reformasi dengan era Orde Baru. Dia bilang, kalau zaman Orde Baru dulu tujuh puluh persen anggaran untuk pembangunan dan tiga puluh persen sisanya untuk anggaran rutin. “Sekarang kebalikannya.” Ridwan mengemukakan, ia jarang melihat foto SBY dan Ibu Ani memotong pita peresmian pembangunan. Jangan-jangan, gunting pemotong pita di Sekretariat Negara tidak pernah dipakai, sindirnya.

Ridwan melanjutkan, inilah konsekwensi demokrasi biaya tinggi dan kebebasan tanpa bertumpu pada konstitusi dan Pancasila. Akhirnya sistem pun membusuk, tukasnya. Ridwan menganggap pada akhirnya sistem sekarang gagal secara alamiah dan akan tumbang. “Terserah kita mau menumbangkan atau tidak, tapi yang pasti akan tumbang dengan sendirinya,” pungkasnya. (HST)