Chris Siner: Era Reformasi = Orde Baru Jilid II

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Bagi Chris Siner Keytimu, mantan aktivis Kelompok Cipayung yang juga Ketua Umum PMKRI 1971-1975, era Reformasi hanyalah kelanjutan dari era Orde Baru (Orba). “Makanya bisa disebut sebagai Orba Jilid II,” tegasnya.

Ada beberapa alasan yang membuat Chris Siner, pembicara terakhir dalam diskusi publik “Kelompok Cipayung: Indonesia Yang Dicita-Citakan”, yang diselenggarakan Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK), di markas PGK Jl. Tebet Timur Dalam Raya No 43, Jakarta Selatan.

Ada beberapa catatan yang membuat Chris berpendapat demikian. Pertama, partai-partai politik yang ada sekarang merupakan kloning dari partai-partai yang ada di masa Orde Baru. Dengan kata lain, konstelasi politik di zaman Reformasi tak ubahnya dengan konstelasi politik di zaman Orde Baru.

Kedua, ada hal-hal di era Orde Baru yang masih dipertahankan di era Reformasi. Misalnya keberadaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). “Menurut kami di Kelompok Cipayung, KNPI itu tak perlu ada,” sebut Chris, seraya menambahkan, kelompoknya sempat membentuk Forum Konsultasi Pemuda Indonesia (FKPI), jauh sebelum Pemerintah memprakarsai pembentukan KNPI. Namun FKPI yang diusulkan Kelompok Cipayung hanya ada di tingkat pusat, tidak seperti KNPI yang memiliki kaki dari Pusat hingga ke Daerah, sehingga akhirnya hanya menjadi onderdil Orde Baru.

Ketiga, kondisi mahasiswa saat ini yang tak beda dengan saat Orde Baru. “Militer yang memperalat mahasiswa atau mahasiswa yang diperalat militer?” tanya Chris, yang kemudian dijawabnya sendiri, “Kemungkinan kedua sepertinya enggak mungkin.” Dia melanjutkan, dari dulu aksi mahasiswa sifatnya gerakan moral. Dulu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) (yang berperan melahirkan Orde Baru) akhirnya mati tanpa bangkai, perannya digantikan militer, birokrasi, dan Golkar. Begitupun di era Reformasi, mahasiswa yang mempelopori Reformasi, akhirnya juga tersingkirkan.

Di akhir bicaranya, Chris berharap, mahasiswa bisa tetap meneruskan semangat dan cita-cita Kelompok Cipayung, yang didirikan untuk menjaga jarak dengan kekuasaan, agar bisa mengawasi bagaimana kekuasaan itu dijalankan. (MSR)