MS Hidayat: Sumber Energi Utama di Indonesia Kian Menipis

Foto: kemenperin.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan, pertumbuhan pengolahan sektor industri non-migas  hingga Triwulan I 2013 mencapai 6,69 persen. Hal itu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) pada periode yang sama sebesar 6,02 persen.

“Sektor industri merupakan pengguna energi terbesar yaitu 49,4 persen dari konsumsi energi secara nasional,” ujar Hidayat dalam sambutannya pada Sidang Anggota Ke-10 Dewan Energi Nasional (DEN) yang membahas “Program Kebutuhan Energi untuk Sektor Industri” di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (15/7/2013).

Menurut Menperin, sumber energi utama di Indonesia hingga saat ini masih berasal dari energi fosil. Namun energi yang terdiri dari minyak bumi, gas alam, dan batubara itu semakin menipis.

Sementara ketersediaan sumber energi baru terbarukan seperti biomassa, tenaga air skala kecil, tenaga surya, dan angin masih dalam persentase kecil, yaitu sekitar lima persen. Oleh karenanya, untuk menyikapi itu pemerintah telah mengeluarkan PP No.70 tahun 2009 tentang Konservasi Energi. PP itu menjelaskan bahwa perusahaan pengguna energi yang mengkonsumsi lebih dari atau sama dengan 6000 ton oil equivalen (TOE) per tahun wajib melakukan audit energi secara berkala.

Diketahui, dari hasil kajian Kemenperin bersama INDEF pada 2012 terdapat tujuh sektor industri yang dikategorikan industri padat energi. Di antaranya: industri pupuk, pulp dan kertas, tekstil, semen, baja, keramik, dan pengolahan kelapa sawit. Ketujuh industri itu umumnya masih boros energi.

“Dalam industri baja misalnya, penggunaan energi di Indonesia masih sebesar 900 kWh/ton produk, sementara India hanya 600 kWh/ton produk dan Jepang 350 kWh/ton produk,” ungkap Menperin.

Untuk mengatasi masalah tersebut menurut Hidayat, program efisiensi energi harus diprioritaskan dalam pengembangan industri sebagaimana telah dilakukan pada pengembangan kendaraan bermotor melalui teknologi low carbon emission. Misalnya seperti mobil listrik, hybrid, dan bio fuel yang akan mengurangi emisi sekaligus menghemat bahan bakar minyak.

“Penggunaan energi sangat berpengaruh pada emisi gas rumah kaca (GRK). Untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26 persen apabila dengan upaya sendiri atau 41 persen apabila dibantu donor internasional sesuai komitmen Presiden pada Konvensi G20 di Pittsburgh.” (MI)